Prodi Agroteknologi Kembangkan Kultur Jaringan

Program Studi (Prodi) AKultur jaringan 2groteknologi Politeknik Banjarnegara terus melaksanakan dan mengembangkan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat yang mengarah pada penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi pertanian.

Ketua Prodi Agroteknologi Dwi Ari Cahyani, STP, MSc mengatakan berbagai kegiatan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat telah berhasil dilaksanakan dan terus mengalami perkembangan. “Sesuai dengan Tri Dharma Perguruan Tinggi, selain pendidikan kami juga terus meningkatkan kegiatan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat,” katanya. Menurut Dwi dalam hal penelitian dan pengabdian kepada masyarakat saat ini pihaknya sedang mengembangkan teknologi perbanyakan tanaman melalui kultur jaringan.

Seorang Dosen, Okti Hanayanti, SP,MSi yang saat ini sedang melakukan penelitian kultur jaringan menjelaskan kultur jaringan adalah suatu metode untuk mengisolasi bagian dari tanaman seperti protoplasma, sel, sekelompok sel, jaringan dan organ, serta menumbuhkannya dalam kondisi aseptik, sehingga bagian–bagian tersebut dapat memperbanyak diri dan beregenerasi menjadi tanaman utuh kembali. “Saat ini kami sedang melakukan kultur jaringan untuk tanaman cabai lokal yang tumbuh di daerah Dieng,” ungkap Okti. Sebelumnya Politeknik Banjarnegara dengan sarana laboratorium khusus serta didukung dengan peralatan dan perlengkapan yang memadai serta SDM yang handal telah berhasil melakukan kultur jaringan terhadap tanaman kentang, pisang, krisan, anggrek, bit dan beberapa jenis tanaman lainnya.

Dipilihnya tanaman cabai yang tumbuh di daerah Dieng, pihaknya mengatakan karena cabai yang tumbuh di daerah dataran tinggi Dieng memiliki potensi usia produktif sampai 11 tahun dan memiliki ketahanan terhadap hama penyakit lebih tinggi dibandingkan cabai pada umumnya. “Untuk penanaman di Pulau Jawa, persebaran cabai jenis ini sangat terbatas, hanya ada di dataran tinggi Dieng dan daerah Cibodas Jawa Barat,” katanya.

Menurut Okti, kultur jaringan cabai ini akan diarahkan pada mutasi genetik untuk menghasilkan varietas baru.

Kultur jaringan mempunyai beberapa kelebihan diantaranya bisa menghasilkan jumlah bibit yang banyak dalam waktu singkat, tidak memerlukan tempat yang luas, tidak tergantung pada musim, bibit lebih sehat, tahan penyakit dan virus serta memungkinkan dilakukannya manipulasi genetik. “Yang menjadi kekurangan dari metode kultur jaringan adalah biaya awal yang cukup tinggi karena harus dilakukan di dalam laboratorium dan penggunaan bahan kimia yang cukup banyak,” ungkapnya.

Okti menambahkan tingkat keberhasilan kultur jaringan dipengaruhi oleh berbagai faktor diantaranya jenis media yang digunakan dan tingkat sterilisasi. Media yang akan dipakai untuk kultur jaringan harus steril dari bakteri maupun cendawan. Media selain berfungsi sebagai tempat tumbuh bagi sel, organ dan jaringan, juga menyediakan hara makro, hara mikro, karbohidrat, vitamin, asam amino tertentu dan zat pengatur tumbuh.

Sementara itu, seorang mahasiswa Prodi Agroteknologi angkatan 2012, Gunawan Prasetyo mengatakan melalui mata kuliah Kultur Jaringan mahasiswa diajarkan cara dan teknik kultur jaringan serta melakukan praktek melalui project kultur jaringan dengan komoditas yang berbeda-beda.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *