Politeknik Kembangkan Batik Alami

Untuk menambah keragaman dan memajukan industri batik tradisional Gumelem di Kecamatan Susukan, Politeknik Banjarnegara mengembangkan batik tradisional dengan pewarna alami.

Kepala Unit Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (UP2M) Politeknik Banjarnegara, Okti Hanayanti, SP, M.Si mengatakan kegiatan tersebut merupakan salah satu wujud pengabdian masyarakat Politeknik Banjarnegara yang bekerjasama dengan PT Indonesia Power.

“Sebagai upaya untuk lebih meningkatkan produktivitas dan keberlanjutan usaha tersebut, bersama PT Indonesia Power kami susun program pengembangan industri batik Gumelem,” katanya. Beberapa kegiatan yang telah dilaksanakan diantaranya pelatihan produksi bersih dan manajemen industri, survey dan studi banding ke pengrajin batik di Bangkalan, Madura, Jawa Timur serta pelatihan teknik pewarnaan batik tulis.

Pihaknya menjelaskan beberapa permasalahan yang dihadapi pengrajin batik tradisional yang sangat mempengaruhi kualitas batik tulis yang dihasilkan diantaranya penggunaan bahan baku yang tidak standar, teknik pewarnaan yang tidak berkembang serta in-efisiensi dalam proses produksi.

Teknik pewarnaan yang terus-menerus dipertahankan tanpa adanya alih teknologi ramah lingkungan menyebabkan limbah industri batik juga tidak tertangani. Industri batik dan tekstil merupakan salah satu penghasil limbah cair yang berasal dari proses pewarnaan. Selain kandungan zat warnanya yang tinggi, limbah industri batik dan tekstil juga mengandung bahan-bahan sintetik yang sukar larut atau sukar diuraikan.

“Setelah mengikuti pelatihan pewarnaan batik dengan pewarna alami di Madura beberapa waktu lalu, sekarang para peserta sudah mulai mencobanya,” ujarnya.

Seorang pengrajin, Waridah mengatakan batik yang dihasilkan dengan pewarna alami memiliki kualitas yang sangat bagus dan memiliki warna yang khas. Menurut dia, selain ramah lingkungan, warna yang dihasilkan tidak cepat memudar apabila dicuci berulang kali dan sangat cocok dipakai oleh orang yang memiliki kulit sensitif terhadap bahan kimia. Pewarna alami yang digunakan merupakan bahan-bahan yang berasal dari tumbuhan alami seperti dedaunan dan kayu-kayuan diantaranya kayu secang, tingi, tegeran, jambal dan jolawe. “Saya pernah menggunakan rebusan kayu mahoni sebagai pewarnanya dan hasilnya lumayan bagus,” ungkap Waridah.

Sementara itu pengrajin lain, Tunggul mengatakan saat ini mencoba dengan bahan baku hasil belajar di Madura, namun dirinya juga berusaha untuk mengembangkan dengan kayu-kayu yang ada dan tumbuh di daerah Banjarnegara.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *