“Momosa” Antar Mahasiswa Politeknik Raih Hibah Dikti

Berkat kejelian, ketekunan, dan ilmu pengetahuan yang dimiliki, mahasiswa Politeknik Banjarnegara berhasil meraih dana hibah Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) dari Direktorat Jenderal Perguruan Tinggi (Dirjen Dikti).

Dengan proposalnya yang berjudul “Momosa” Sebagai Peluang Agroindustri di Banjarnegara, berdasarkan surat Pengumuman Hasil Evaluasi PKM nomor 0074/E5.3/KPM/2015, tanggal 14 Januari 2015 dinyatakan sebagai pemenang untuk kategori bidang kegiatan PKM-Kewirausahaan tahun anggaran 2015.

Obyek yang menjadi fokus kreasi dari tiga mahasiswa Program Studi Agroteknologi yang terdiri dari Fitria Pratidina Sediono, Alfiana Rahmadani dan Muhammad Rif’an Lazuardi sebenarnya biasa saja, yakni “molen”, salah satu makanan ringan yang cukup digemari masyarakat dari berbagai kalangan. Namun di tangan ketiga mahasiswa tersebut, molen menjadi makanan yang luar biasa.

Menurut Fitria, hasil inovasinya diberi nama Momosa, singkatan dari molen mocaf isi salak. Biasanya molen terbuat dari bahan dasar tepung terigu dan berisi pisang, namun yang akan dikembangkan adalah molen dengan campuran bahan baku tepung mocaf dan berisi daging buah salak. Menurut dia, hal tersebut didasari karena keinginannya untuk lebih mengembangkan pengolahan tepung mocaf dan buah salak yang pasokannya cukup banyak di Banjarnegara. “Dengan menginovasi rasa buah khas Banjarnegara yaitu salak sebagai bahan isian molen dapat memberi peluang usaha yang menjanjikan bagi usaha bisnis Momosa ini,” katanya.

Lebih lanjut dijelaskan Alfiana, bahan utama dalam pembuatan Momosa adalah tepung mocaf yang terbuat dari hasil fermentasi singkong. Mocaf merupakan produk tepung dari singkong yang diproses menggunakan prinsip memodifikasi sel ubi kayu secara fermentasi. “Banyaknya produksi singkong di Banjarnegara dan kurangnya inovasi olahan, juga menjadi salah satu alasan kami menggunakan tepung mocaf sebagai bahan utama pembuatan Momosa”, kata Alfiana. Menurut dia, penggunaan tepung mocaf dalam pembuatan Momosa bertujuan untuk mengangkat nilai jual singkong yang untuk saat ini bisa dikatakan rendah.

Sementara itu, Rif’an menambahkan untuk peluang pasar Momosa bisa dibilang sangat menjanjikan karena penggemar buah salak hingga saat ini masih banyak dan semakin bertambah. Inovasi penggunaan buah salak sebagai isian Momosa merupakan salah satu keunggulan dibandingkan produk molen biasa karena panggunaan buah salak yang merupakan buah kebanggaan masyarakat Banjarnegara lebih mampu menarik pasar dan konsumen.

Usaha tersebut, rencananya akan direalisasikan dan dikembangkan melalui hibah yang ia dapatkan sebesar Rp. 8.500.000,-. Pihaknya berharap usahanya tersebut dapat diterima dan diminati masyarakat. Untuk rencana promosi akan dilakukan diantaranya dengan publikasi di media cetak, elektronik maupun dengan mengikuti pameran produk yang setiap tahun dilaksanakan oleh dinas terkait serta membuka stand produk pada acara yang mengundang banyak orang.

Lukmanul Hakim, STP, M.Sc, pembimbing PKM, berharap prestasi tersebut bisa menjadi contoh bagi mahasiswa lainnya untuk mengembangan ide dan kreativitasnya. Pemerintah memfasilitasi gagasan mahasiswa melalui PKM. Sedikitnya ada lima jenis PKM yang dikompetisikan yang akan didanai tahun 2015 mulai dari kewirausahaan, penelitian, karsa cipta, pengabdian masyarakat dan penerapan teknologi.

“Kami selalu mendorong mahasiswa untuk aktif melakukan penelitian sehingga gagasan mereka tak hanya sebatas wacana tetapi juga bisa diwujudkan melalui hibah yang ditawarkan oleh pemerintah” kata Lukman.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *