Lautan Ibu Hamil

Selasa, 18 Februari 2014 ada pemandangan yang berbeda di kampus ini. Mendadak Politeknik Banjarnegara menjadi lautan ibu hamil. Bukan lantaran ada garukan ibu hamil sehingga mereka pada ngumpet dikampus yang memang letaknya dipinggiran kota ini, namun tiap mahasiswa kebidanan semeter III diwajibkan mengajak satu orang ibu hamil untuk diperiksa, sebagai syarat utama ujian Ante Natal Care (ANC).  a

Setelah sebelumnya melakukan praktek klinik fisiologis selama sebulan di Puskesmas, mahasiswa diwajibkan mengikuti ujian ANC dengan membawa satu ibu hamil kekampus untuk diperiksa kehamilannya. Tujuannya adalah mengevaluasi kemampuan mahasiswa dalam melakukan Asuhan Kebidanan kepada ibu hamil” ungkap Bu Dewie Sulistyorini, S.SiT, M.Kes selaku dosen Prodi DIII Kebidanan yang sekaligus merangkap sebagai Pembantu Direktur II.

Ujian ANC yang dilaksananakan mahasiswa Kebidanan semester III ini adalah pemeriksaan ibu hamil yang meliputi Anamnesa, pemeriksaan fisik, pemeriksaan lab (Hb, protein urin, reduksi urin) dan konseling. Ujian yang dilaksanakan di gedung prodi DIII Kebidanan lantai 2 ini diikuti oleh 43 mahasiswa yang berarti membawa ibu hamil sejumlah 43 orang.  Dimulai pukul 08.00 WIb dan di 3 (tiga) ruang laboratorium yang berbeda.

Ya seneng ya sambil jalan-jalan saya juga dapat pemeriksaan kehamilan gratis oleh mahasiswa Politeknik Banjarnegara, ternyata biarpun baru semester tiga mereka sudah pinter mriksa mas…” komentar bu Dian, salah satu ibu hamil yang dibawa oleh mahasiswa.
Mahasiswa yang mengikuti ujian / praktek juga didampingi oleh dosen-dosen Politeknik Banjarnegara yang tentu saja berpengalaman dan memiliki kompetensi dalam pemeriksaan kehamilan.

bSetelah mengikuti ujian ANC ini, di semester selanjutnya (semester IV) mahasiswa juga diwajibkan mengikuti Praktek Kebidanan I di Rumah Sakit / Puskesmas. Program studi DIII Kebidanan Politeknik Banjarnegara memang lebih fokus pada Kebidanan Komunitas, dimana selain padat praktek, mahasiswa juga lebih banyak dihadapkan langsung kepada masyarakat. Selain menjadi lebih terampil, mahasiswa juga memiliki bekal untuk langsung terjun ke masyarakat. Ini menjadi penting karena pada akhirnya bidan-bidan ini juga langsung berhadapan dengan masyarakat setelah lulus nanti.

Kenapa komunitas? Ya karena AKI (Angka Kematian Ibu) di Banjarnegara tergolong tinggi, harapannya dengan bidan-bidan kita punya skill untuk mendekat ke masyarakat, AKI dibanjarnegara bisa berangsur menurun jumlahnya“, lanjut Bu Dewie.

Menjelang sore ujian pun usai. Ada perasaan senang ketika mahasiswa keluar dari ruangan ujian, ada perasaan gembira ketika ibu-ibu hamil mengetahui kondisi kehamilannya sehat dan kondisi tubuhnya baik-baik saja. Mereka pun pulang kerumah masing-masing untuk menyampaikan kabar gembira kepada keluarga yang menantinya. Sedang mahasiswa, dari senyumnya yang ramah menyiratkan kebahagiaan mereka karena telah berhasil melaksanakan salah satu tugas yang mulia; membantu ibu hamil. (w)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *