Kopi Jadi Komoditas Menjanjikan (Seminar Kewirausahaan Himagro)

Beberapa tahun belakangan ini, konsumsi kopi masyarakat secara nasional meningkat signifikan dan berdampak pula pada tingkat konsumsi kopi di Kabupaten Banjarnegara.

Menurut Sekretaris Direktorat Jenderal Prasarana dan Sarana Pertanian pada Kementerian Pertanian, Abdul Madjid, Indonesia adalah produsen kopi terbesar keempat dunia setelah Kolombia, Vietnam dan Brasil.

“Permasalahan yang sekarang dihadapi di Indonesia adalah konsumsi kopi meningkat tapi produksinya menurun. Konsumsi dari tahun 2000-2016 meningkat 2,29 juta bungkus (1 bungkus adalah 60 kg biji kopi), sedangkan produksi kopi menurun dari 2012-2017 adalah 54.163 ton,” katanya.

Menurut Abdul Madjid, Banjarnegara memiliki potensi kopi yang dapat dikembangkan dan dapat memberi hasil menjanjikan. Diharapkan permasalahan produksi kopi yang menurun dapat ditingkatkan. Demikian dikatakannya dalam seminar kewirausahaan yang digelar Himpunan Mahasiswa Agroteknologi (Himagro) Politeknik Banjarnegara di auditorium kampus, Sabtu (23/12) lalu.

Ketua Panitia Penyelenggara, Ramdani Syeh Abdul A mengatakan tema yang diangkat dalam seminar tersebut yakni Menanamkan Jiwa Kewirausahaan pada Generasi Muda Berbasis Kopi Banjarnegara. Selain meningkatkan peran aktif Himagro, tujuan utama digelarnya kegiatan tersebut adalah meningkatkan kecakapan dan ketrampilan khususnya dalam sense of business sehingga akan tercipta wirausahawan muda yang potensial. “Selain menghadirkan narasumber utama dari Kementerian Pertanian, hadir juga sebagai narasumber dari Pemkab Banjarnegara dan komunitas kopi Banjarnegara,” katanya.

Wakil Bupati Banjarnegara, Syamsudin menyampaikan bahwa Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) tahap ketiga adalah mengenai agroindustri. “Dalam RPJMD tahap ketiga ini kami memiliki kalimat penyemangat, yaitu Banjarnegara maju berbasis pertanian. Ini saatnya pertanian kita maju, para petani khususnya petani kopi di Banjarnegara melakukan ekspansi sehingga kopi Banjarnegara dikenal tidak hanya lokal akan tetapi juga nasional bahkan internasional,” katanya.

Ditegaskan Wabup, bersama Kementerian Pertanian, Politeknik Banjarnegara, PT. Indonesia Power, para penggiat kopi serta dinas terkait di Banjarnegara akan mengawal dengan sungguh-sungguh agar tujuan tersebut dapat tercapai.

Sementara itu, Ketua Komunitas Kopi Barapi, Muhammad Arifin Nurulhuda mengatakan minuman kopi premium yang disajikan di kedai kopi oleh barista mulai digemari di Indonesia sejak tahun 2014. Konsumen kopi sekarang dapat melihat proses pembuatan kopi dari bentuk biji sampai siap saji. Biasanya konsumen juga menanyakan berbagai macam tentang kopi dan peralatan yang digunakan. “Barista di kedai kopi merupakan orang yang bertanggung jawab tentang kualitas kopi yang disajikan. Menjadi barista harus mengikuti kelas dengan standar internasional atau sertifikasi sehingga benar-benar paham tentang kopi,” kata Arifin.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *