Konferensi Guru BK Rekomendasikan Tiga Penguatan Karakter

Peserta konferensi guru bimbingan konseling (BK) SMA dan sederajat, merekomendasikan tiga hal penguatan karakter generasi muda saat ini, yaitu penguatan karakter kedisiplinan, etos belajar dan etika.

Ketiganya dinilai penting untuk membangun pribadi yang berkarakter unggul namun tetap memiliki kepribadian yang luhur dan beretika. Konferensi guru BK digelar di Politeknik Banjarnegara, Sabtu (10/3) lalu. Kegiatan diikuti 50 guru bimbingan konseling se-Banjarnegara. Kepala Dinas Pendidikan Kepemudaan dan Olahraga, Noor Tamami, menyambut baik rekomendasi yang dikeluarkan oleh guru bimbingan konseling.

“Dunia pendidikan saat ini sangat kompleks dinamikanya. Bukan hanya permasalahan peserta didik yang kerap muncul, melainkan juga permasalahan para guru atau pendidik,” ujarnya. Dindikpora sering menerima laporan kasus-kasus yang menimpa guru sekaligus mengambil jalan untuk memberikan solusi agar tidak mengganggu stabilitas pendidikan. Selain itu juga masalah peserta didik terutama mengenai moralitas anak muda jaman sekarang.

Para guru diminta untuk makin peduli terhadap kondisi fisik maupun psikologis peserta didik. Termasuk pula mau lebih dekat lagi dan perhatian dengan anak-anak yang dibimbingnya. “Kami meyakini guru BK adalah orang yang paling dekat dengan peserta didik. Implikasinya semua harus menjadi garda terdepan dalam melindungi anak-anak dari segala sesuatu yang dapat merusak masa depan mereka,” jelasnya.

Pemateri utama pada konferensi, Pj. Direktur Politeknik Banjarnegara, Tuswadi mengatakan, dalam survei singkat guru BK, ditemukan fakta bahwa tiga masalah dominan di kalangan peserta didik di sekolah- sekolah.

Seperti masih rendahnya kedisiplinan, rendahnya semangat belajar, dan goncangnya kondisi keluarga. Kedisiplinan tercatat dari seringnya peserta didik membolos, terlambat, tidak rapi dalam berpakaian, dan semacamnya. Rendahnya semangat belajar terlihat dari kebiasaan peserta didik tidur sel Kedisiplinan tercatat dari seringnya peserta didik membolos, terlambat, tidak rapi dalam berpakaian, dan semacamnya.

Rendahnya semangat belajar terlihat dari kebiasaan peserta didik tidur selama proses pembelajaran, pulang tanpa pamit, lalai mengerjakan tugas-tugas dari guru. “Adapun untuk masalah yang berhubungan dengan keluarga peserta didik, banyak dari mereka yang bercerai, berpisah sehingga anak tinggal dengan sanak saudara atau kakek nenek,” terangnya.

Kurangnya perhatian dari keluarga, termasuk kemiskinan, menyebabkan peserta didik tidak optimal dalam belajar dan mudah terpengaruh pada hal-hal negatif dalam lingkungan seperti pergaulan bebas, narkoba, dan bullying di sekolah.

Implikasinya para guru bimbingan konseling dan guru mata pelajaran di sekolah harus mau dan mampu bersinergi menciptakan proses-proses pembelajaran yang tidak hanya membuat mereka cerdas dan pintar secara akademis. “Melainkan juga cerdas secara sikap dan perilaku yakni berkarakter positif,” ujarnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *