Kacang Termahal di Dunia Kini Ada di Banjarnegara

BANJARNEGARA – Kacang termasuk salah satu camilan gurih yang menjadi kesukaan banyak orang. Tapi tahukah ternyata ada jenis kacang yang memiliki harga yang sangat tinggi. Bahkan mencapai kisaran Rp 300 ribu hingga Rp 500 ribu per kilogram?
Adalah kacang macadamia, yang berasal dari daratan Australia yang memiliki cita rasa gurih dan lembut. Selain digunakan untuk topping es krim, kacang ini juga dapat menghasilkan minyak hingga 80 persen, yang berguna untuk kosmetik terutama perawatan kulit.
Rupanya, kacang yang digadang-gadang sebagai jenis kacang termahal di dunia tersebut kini sudah mulai dibudidayakan di Banjarnegara. Sejak beberapa bulan lalu, Politeknik Banjarnegara bekerja sama dengan Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai dan Hutan Lindung (BP DASHL) Serayu Opak Progo membuat persemaian untuk pembiakan kacang macadamia.
“Ada 80 ribu biji kacang macadamia yang disemai di lahan Politeknik Banjarnegara,” kata Novan Hakim, pegawai BP DASHL Serayu Opak Progo saat kunjungan ke persemaian, Selasa (17/9).
Nantinya, lanjut Novan, bibit kacang macadamia tersebut akan dibagikan kepada masyarakat secara gratis. Namun, masih menunggu usia bibit tanaman mencapai 8 bulan untuk siap dipindah ke lahan budi daya.
“Saat ini, usia bibit baru 2 bulan. Bagi yang berminat, silakan datang ke Politeknik Banjarnegara dengan membawa surat permohonan bisa kelompok tani atau pribadi,” katanya.
Dikatakan, jenis kacang ini tumbuh optimal di lahan dengan ketinggian 700 meter hingga 1.500 meter di atas permukaan lait dengan kisaran suhu 15-18 derajat Celcius. Sehingga, pembagian bibit akan diprioritaskan untuk lahan yang memenuhi syarat tanam.
Kim Wilson, ilmuwan Australia yang telah meneliti kacang macadamia selama 40 tahun, juga menyatakan kekagumannya terhadap proyek persemaian tanaman ini di lahan Politeknik Banjarnegara. Menurutnya, persemaian tersebut sangat bagus dan layak menjadi percontohan di Indonesia.
“Dengan sistem sederhana dan non permanen, persemaian macadamia di Politeknik Banjarnegara mampu memproduksi bibit dengan tingkat keberhasilan lebbih dari 64 persen,” terangnya.
Selain tingginya tingkat keberhasilan, Kim Wilson juga memberikan apresiasi terhadap teknik dasar yang diterapkan dalam proses persemaian. Kualitas bibit atau perfoma bibit hasil persemaian yang dilakukan di lahan Politeknik Banjarnegara sama dengan yang ada di Australia.
Pembantu Direktur Bidang Kemahasiswaan Alumni dan Kerja Sama Politeknik Banjarnegara Bondan Hary Setiawan menyatakan, kerja sama ini sangat relevan dengan Politeknik Banjarnegara, serta sangat sesuai dengan kondisi Kabupaten Banjarnegara.
Wilayah dengan kemiringan curam dan rawan longsor bisa diamankan dengan konservasi tanaman, salah satunya macadamia. “Proses produksi bibit melibatkan mahasiswa prodi Agroteknologi dari pembuatan media tanam, pemindahan bibit hingga pemeliharaan,” tandasnya. (Castro Suwito)
—–