Dosen Kesehatan Lingkungan Teliti Kondisi “DAMIU”

22Mengkonsumsi air minum isi ulang kini banyak dipilih warga untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Selain ekonomis, air minum isi ulang juga dinilai lebih praktis dan mudah diperoleh. Namun demikian, masyarakat sebaiknya tidak sembarangan dalam memilih Depot Air Minum Isi Ulang atau yang lebih dikenal dengan istilah DAMIU.

Menjamurnya pengusaha DAMIU di Banjarnegara, apabila tidak diawasi dan dikelola secara ketat akan berdampak pada munculnya penyakit berbasis makanan dan minuman (Food and Water Born Disease). Dari alasan itulah dua dosen Program Studi Kesehatan Lingkungan Politeknik Banjarnegara, Joko Malis Sunarno, S.Si, M.Si.Med dan Dwi Atin Faidah, SKM, M.Kes melakukan penelitian kondisi hygiene sanitasi dan kualitas air minum secara mikrobiologis DAMIU di Kabupaten Banjarnegara, akhir 2014 lalu.

Menurut Joko, sampel penelitian diambil pada 32 DAMIU yang tersebar pada 7 kecamatan. “Untuk setiap sampel, kita butuhkan waktu sekitar empat hari penelitian,” ungkapnya. Selain mengambil sampel air yang diproduksi pada masing-masing DAMIU, juga dilakukan wawancara mendalam kepada para pengusaha. Selanjutnya, sampel air tersebut diperiksa di Laboratorium Kesehatan Lingkungan Politeknik Banjarnegara. Penelitian tersebut dilaksanakan sekitar tiga bulan.

Sementara itu menurut Dwi Atin, selain kualitas air produksi secara mikroniologis, penelitian tersebut juga bertujuan untuk mengetahui gambaran sanitasi bangunan dan hygiene karyawan. “Untuk persyaratan kualitas air minum disesuaikan dengan Permenkes RI Nomor 492/Per/IV/2010,” katanya.

Hasil observasi dan wawancara menunjukkan secara umum kondisi sanitasi DAMIU masih memadai kecuali dalam hal fasilitas sanitasi seperti dispenser galon untuk contoh air yang harus ada namun hanya 12,5% DAMIU yang menyediakan. Dalam hal hygiene karyawan dari 10 point hygiene yang diamati, 7 point sudah memadai kecuali 3 point yaitu pemeriksaan kesehatan rutin setiap 6 bulan, pakaian khusus kerja dan kursus operator DAMIU bersertifikat yang masing-masing hanya 3% yang melaksanakannya.

Ditambahkan Joko, kualitas air minum secara mikrobiologis yang diproduksi berdasarkan hasil penelitian 84,4% telah memenuhi syarat sedangkan sisanya 15,6% belum memenuhi syarat. “Kualitas air minum hasil produksi akan terjaga dengan baik apabila DAMIU melakukan pemeriksaan laboratorium ke Dinas Kesehatan Kabupaten dan perawatan komponen alat pengolahan secara rutin,” katanya. Dari hasil penelitian kedua peneliti memberikan saran kepada konsumen untuk cermat dalam memilih DAMIU dengan memperhatikan adanya hasil pemeriksaan laboratorium secara rutin pada setiap DAMIU.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *