ARTIKEL

 SINERGITAS PERGURUAN TINGGI DENGAN KELOMPOK MASYARAKAT MELALUI PENGEMBANGAN POTENSI WILAYAH BERBASIS SUMBERDAYA LOKAL

(Studi Kasus Kelompok Wanita Tani Singkong Desa Majalengka, Bawang, Banjarnegara)
Oleh : Sarno
Dosen Program Studi D-3 Agroindustri Politeknik Banjarnegara
Jl. Raya Madukara KM 02, Kenteng 53482/e-mail : abisarno1@gmail.com
Kamis 17 Juni 2021

Kegiatan pendidikan, penelitian dan pengabdian kepada masyarakat merupakan kewajiban Tri Dharma Perguruan Tinggi yang harus selalu dan terus dikembangkan civitas akademika. Sebagai bagian dari wujud nyata peran serta dan kewajiban perguruan tinggi dalam rangka mengembangkan dan memajukan dinamika kehidupan bermasyarakat. Kegiatan dilakukan dengan mengambil tema pengembangan potensi wilayah berbasis sumberdaya lokal pedesaan khususnya pada Kelompok Wanita Tani Sinar Tani Desa Majalengka Kecamatan Bawang Kabupaten Banjarnegara. Seperti diketahui bahwa Desa Majalengka merupakan salah satu desa yang ada di Kecamatan Bawang yang memiliki luas wilayah mencapai 523,870 hektar atau sekitar 9,489 % dari luas keseluruhan Kecamatan Bawang 5.520,637 hektar. Memiliki 24 Rukun Tetangga dan 10 Rukun Warga serta jumlah penduduknya 3.703 jiwa (BPS Kabupaten Banjarnegara, 2018). Desa dengan mayoritas penduduknya petani ini memiliki jarak tempuh 12 kilometer dari pusat kota Banjarnegara. Desa Majalengka merupakan salah satu desa yang masih menyimpan banyak masalah didalam pemanfaatan lahan yang sebenarnya potensial akan tetapi belum digarap secara intensif, terutama sekali adalah pemanfaatan lahan tegalan atau lahan kering seluas 445 hektar, lahan sawah sekitar 54 hektar, sedangkan lahan untuk fasilitas umum sekitar 25 hektar. Lahan tegalan atau kering semua ditanam singkong dengan potensi hasil mencapai rata-rata 5 ton/hektar. Hampir semua hasil panen singkong yang dihasilkan dijual langsung ke konsumen atau ke pasar. Artinya peluang untuk melakukan diversifikasi produk olahan singkong memang belum banyak dilakukan oleh masyarakat.

Kegiatan tri dharma tersebut dilakukan sebagai wujud nyata sinergitas perguruan tinggi bagi kemajuan masyarakat. Kegiatan yang dilakukan mulai dari mengkaji tentang analisis pendapatan, pengaruh faktor sosial ekonomi, dan peran serta kelompok wanita tani dari kegiatan pengembangan usahatani singkong sampai pada strategi pemasaran terpadu produk olahan singkong menjadi tiwul instan. Keterbatasan pengetahuan dan keterampilan kelompok masyarakat dalam pengembangan singkong, diversifikasi produk, efisiensi biaya produksi, dan pemasaran terpadu produk olahan singkong menjadi permasalahan utama yang harus dipecahkan. Kegiatan tersebut juga diperkuat dengan pemberdayaan masyarakat bagi kelompok wanita tani yang mengolah singkong. Tujuan kegiatan untuk peningkatan kualitas produk, manajemen kelembagaan, pengembangan home industri berbasis potensi lokal, mendukung peningkatan pendapatan dan kesejahteraan masyarakat kelompok wanita tani. Pemberdayaan masyarakat dilakukan menggunakan metode pendidikan melalui kegiatan penyuluhan tentang teknolgi diversifikasi produk singkong, kegiatan difusi ipteks melalui pelatihan penerapan teknologi diversifikasi produk singkong, pengemasan dan pelabelan, serta kegiatan advokasi melalui pendampingan secara berkelanjutan (Sarno, 2019).

Hasil kegiatan menunjukkan bahwa bahwa pendapatan rata-rata yang diperoleh para anggota kelompok wanita tani dari kegiatan usahatani singkong per satu kali produksi sebesar  Rp 649.900,-, efisiensi biaya produksi usahatani singkong diperoleh sebesar 1,84 yang berarti bahwa biaya produksi yang dikeluarkan sudah efisiensi, dan kegiatan usahatani singkong yang dilakukan oleh para anggota kelompok wanita tani memberikan sumbangan atau kontribusi pendapatan total rumah tangga sebesar 97,7 % dan pendapatan yang diperoleh sebesar 2,3 % didapatkan dari usaha lain. Ternyata kegiatan usahatani singkong sangat membantu pemenuhan kebutuhan rumah tangga para anggota kelompok wanita tani Desa Majalengka karena merupakan pekerjaan utama (Sarno,2020a). Penerapan strategi pemasaran terpadu produk tiwul instan pada kelompok wanita tani meliputi strategi produk, strategi harga, strategi tempat, dan strategi promosi. Berdasarkan analisis SWOT (Strength, Weakness, Opportunity, Threatment) maka strategi pengembangan pemasaran terpadu yang harus dilakukan adalah memperluas pasar ekspor dengan meningkatkan diversifikasi produk yang dapat dipasarkan secara online sehingga kebutuhan konsumen terpenuhi. Selain itu untuk mengurangi impor, persaingan tidak sehat, perubahan selera konsumen dan produk substitusi serta dapat dilakukan upaya peningkatan tingkat adopsi teknologi, mengembangkan kerjasama pemasaran, jaringan distribusi dan memperluas akses pasar (Sarno, 2020b). Secara umum outcome yang dihasilkan pada kegiatan pemberdayaan masyarakat berupa meningkatnya pengetahuan dan keterampilan kelompok wanita tani dalam penerapan teknologi diversifikasi produk olahan singkong seperti tiwul instan, tepung mocaf dan kerupuk singkong yang memiliki nilai tambah.

Referensi :

Badan Pusat Statistik Kabupaten Banjarnegara. 2018. Kecamatan Bawang Dalam Angka. Pemerintah Daerah Kabupaten Banjarnegara Tahun 2018.

Sarno, Lukmanul, H., 2019. Program Kemitraan Masyarakat Kelompok Wanita Tani Desa Majalengka Banjarnegara yang Menerapkan Teknologi Diversifikasi Produk Olahan Singkong. Jurnal Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat. LPPM Universitas Sains Al Qur’an, Wonosobo.

Sarno, Rossi, P., 2020a. Analisis Peran Kelompok Wanita Tani Dalam Pengembangan Usahatani Singkong Sebagai Upaya Peningkatan Pendapatan Keluarga di Desa Majalengka Banjarnegara. Jurnal Mediagro. Fakultas Pertanian. Universitas Wahid Hasyim, Semarang.

Sarno, 2020b. Strategi Pemasaran Terpadu Produk Tiwul Instan Kelompok Wanita Tani di Kabupaten Banjarnegara. Prosiding Seminar Nasional Fakultas Pertanian. Universitas Muhammadiyah Purwokerto.

 

 SINERGITAS PERGURUAN TINGGI DENGAN KELOMPOK MASYARAKAT MELALUI PENGEMBANGAN POTENSI WILAYAH BERBASIS SUMBERDAYA LOKAL

(Studi Kasus Kelompok Wanita Tani Singkong Desa Majalengka, Bawang, Banjarnegara)
Oleh : Sarno
Dosen Program Studi D-3 Agroindustri Politeknik Banjarnegara
Jl. Raya Madukara KM 02, Kenteng 53482/e-mail : abisarno1@gmail.com
Kamis 17 Juni 2021

Kegiatan pendidikan, penelitian dan pengabdian kepada masyarakat merupakan kewajiban Tri Dharma Perguruan Tinggi yang harus selalu dan terus dikembangkan civitas akademika. Sebagai bagian dari wujud nyata peran serta dan kewajiban perguruan tinggi dalam rangka mengembangkan dan memajukan dinamika kehidupan bermasyarakat. Kegiatan dilakukan dengan mengambil tema pengembangan potensi wilayah berbasis sumberdaya lokal pedesaan khususnya pada Kelompok Wanita Tani Sinar Tani Desa Majalengka Kecamatan Bawang Kabupaten Banjarnegara. Seperti diketahui bahwa Desa Majalengka merupakan salah satu desa yang ada di Kecamatan Bawang yang memiliki luas wilayah mencapai 523,870 hektar atau sekitar 9,489 % dari luas keseluruhan Kecamatan Bawang 5.520,637 hektar. Memiliki 24 Rukun Tetangga dan 10 Rukun Warga serta jumlah penduduknya 3.703 jiwa (BPS Kabupaten Banjarnegara, 2018). Desa dengan mayoritas penduduknya petani ini memiliki jarak tempuh 12 kilometer dari pusat kota Banjarnegara. Desa Majalengka merupakan salah satu desa yang masih menyimpan banyak masalah didalam pemanfaatan lahan yang sebenarnya potensial akan tetapi belum digarap secara intensif, terutama sekali adalah pemanfaatan lahan tegalan atau lahan kering seluas 445 hektar, lahan sawah sekitar 54 hektar, sedangkan lahan untuk fasilitas umum sekitar 25 hektar. Lahan tegalan atau kering semua ditanam singkong dengan potensi hasil mencapai rata-rata 5 ton/hektar. Hampir semua hasil panen singkong yang dihasilkan dijual langsung ke konsumen atau ke pasar. Artinya peluang untuk melakukan diversifikasi produk olahan singkong memang belum banyak dilakukan oleh masyarakat.

Kegiatan tri dharma tersebut dilakukan sebagai wujud nyata sinergitas perguruan tinggi bagi kemajuan masyarakat. Kegiatan yang dilakukan mulai dari mengkaji tentang analisis pendapatan, pengaruh faktor sosial ekonomi, dan peran serta kelompok wanita tani dari kegiatan pengembangan usahatani singkong sampai pada strategi pemasaran terpadu produk olahan singkong menjadi tiwul instan. Keterbatasan pengetahuan dan keterampilan kelompok masyarakat dalam pengembangan singkong, diversifikasi produk, efisiensi biaya produksi, dan pemasaran terpadu produk olahan singkong menjadi permasalahan utama yang harus dipecahkan. Kegiatan tersebut juga diperkuat dengan pemberdayaan masyarakat bagi kelompok wanita tani yang mengolah singkong. Tujuan kegiatan untuk peningkatan kualitas produk, manajemen kelembagaan, pengembangan home industri berbasis potensi lokal, mendukung peningkatan pendapatan dan kesejahteraan masyarakat kelompok wanita tani. Pemberdayaan masyarakat dilakukan menggunakan metode pendidikan melalui kegiatan penyuluhan tentang teknolgi diversifikasi produk singkong, kegiatan difusi ipteks melalui pelatihan penerapan teknologi diversifikasi produk singkong, pengemasan dan pelabelan, serta kegiatan advokasi melalui pendampingan secara berkelanjutan (Sarno, 2019).

Hasil kegiatan menunjukkan bahwa bahwa pendapatan rata-rata yang diperoleh para anggota kelompok wanita tani dari kegiatan usahatani singkong per satu kali produksi sebesar  Rp 649.900,-, efisiensi biaya produksi usahatani singkong diperoleh sebesar 1,84 yang berarti bahwa biaya produksi yang dikeluarkan sudah efisiensi, dan kegiatan usahatani singkong yang dilakukan oleh para anggota kelompok wanita tani memberikan sumbangan atau kontribusi pendapatan total rumah tangga sebesar 97,7 % dan pendapatan yang diperoleh sebesar 2,3 % didapatkan dari usaha lain. Ternyata kegiatan usahatani singkong sangat membantu pemenuhan kebutuhan rumah tangga para anggota kelompok wanita tani Desa Majalengka karena merupakan pekerjaan utama (Sarno,2020a). Penerapan strategi pemasaran terpadu produk tiwul instan pada kelompok wanita tani meliputi strategi produk, strategi harga, strategi tempat, dan strategi promosi. Berdasarkan analisis SWOT (Strength, Weakness, Opportunity, Threatment) maka strategi pengembangan pemasaran terpadu yang harus dilakukan adalah memperluas pasar ekspor dengan meningkatkan diversifikasi produk yang dapat dipasarkan secara online sehingga kebutuhan konsumen terpenuhi. Selain itu untuk mengurangi impor, persaingan tidak sehat, perubahan selera konsumen dan produk substitusi serta dapat dilakukan upaya peningkatan tingkat adopsi teknologi, mengembangkan kerjasama pemasaran, jaringan distribusi dan memperluas akses pasar (Sarno, 2020b). Secara umum outcome yang dihasilkan pada kegiatan pemberdayaan masyarakat berupa meningkatnya pengetahuan dan keterampilan kelompok wanita tani dalam penerapan teknologi diversifikasi produk olahan singkong seperti tiwul instan, tepung mocaf dan kerupuk singkong yang memiliki nilai tambah.

Referensi :

Badan Pusat Statistik Kabupaten Banjarnegara. 2018. Kecamatan Bawang Dalam Angka. Pemerintah Daerah Kabupaten Banjarnegara Tahun 2018.

Sarno, Lukmanul, H., 2019. Program Kemitraan Masyarakat Kelompok Wanita Tani Desa Majalengka Banjarnegara yang Menerapkan Teknologi Diversifikasi Produk Olahan Singkong. Jurnal Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat. LPPM Universitas Sains Al Qur’an, Wonosobo.

Sarno, Rossi, P., 2020a. Analisis Peran Kelompok Wanita Tani Dalam Pengembangan Usahatani Singkong Sebagai Upaya Peningkatan Pendapatan Keluarga di Desa Majalengka Banjarnegara. Jurnal Mediagro. Fakultas Pertanian. Universitas Wahid Hasyim, Semarang.

Sarno, 2020b. Strategi Pemasaran Terpadu Produk Tiwul Instan Kelompok Wanita Tani di Kabupaten Banjarnegara. Prosiding Seminar Nasional Fakultas Pertanian. Universitas Muhammadiyah Purwokerto.

 

PENGOLAHAN TEPUNG MOKAF SEBAGAI UPAYA MENINGKATKAN NILAI JUAL SINGKONG

Oleh: Dwi Ari Cahyani, STP.,MSc                                                                                                                                                      Kamis 20 Mei 2021

Ubi kayu atau singkong pada umumnya dipanen pada saat berumur 8 – 12 bulan. Ubi kayu yang ditanam biasanya dimanfaatkan untuk dijual dalam keadaan segar dengan harga jual yang endah. Karakteristik ubi kayu yang tidak tahan lama dalam keadaan segar juga menjadi alternatif untuk mengolah ubi kayu atau singkong menjadi produk lain seperti dijadikan tepung mokaf.

Menurut Prabawati, S (2011), Singkong atau ubi kayu (Manihot esculenta Crantz) merupakan salah satu sumber karbohidrat lokal Indonesia yang menduduki urutan ketiga terbesar setelah padi dan jagung. Tanaman ini merupakan bahan baku yang paling potensial untuk diolah menjadi tepung. Singkong segar mempunyai komposisi kimiawi terdiri dari kadar air sekitar 60%, pati 35%, serat kasar 2,5%, kadar protein 1%, kadar lemak, 0,5% dan kadar abu 1%, karenanya merupakan sumber karbohidrat dan serat makanan, namun sedikit kandungan zat gizi seperti protein.

Singkong segar mengandung senyawa glokosida sianogenik dan bila terjadi proses oksidasi oleh enzim linamarase maka akan dihasilkan glukosa dan asam sianida (HCN) yang ditandai dengan bercak warna biru, akan menjadi toxin (racun) bila dikonsumsi pada kadar HCN lebih dari 50 ppm. Pengelompokan ubikayu berdasarkan kadar HCN menjadi 3 kelompok, yaitu (1) tidak boleh dikonsumsi bila kadar HCN lebih dari 100 ppm (rasa pahit), seperti varietas Adira II, Adira IV dan Thailand, (2) dianjurkan tidak dikonsumsi bila kadar HCN 40 – 100 ppm (agak pahit), seperti varietas UJ-5 dan (3) boleh dikonsumsi kadar HCN kurang dari 40 ppm (tidak pahit), seperti varietas Adira I dan Manado. Ada korelasi antara kadar HCN ubikayu segar dengan kandungan pati.

Semakin tinggi kadar HCN semakin pahit dan kadar pati meningkat dan sebaliknya. Oleh karenanya, industri tapioka umumnya menggunakan varietas berkadar HCN tinggi (varietas pahit). Di samping itu, ubikayu segar mengandung senyawa polifenol dan bila terjadi oksidasi akan menyebabkan warna coklat (browning secara enzimatis) oleh enzim fenolase, sehingga warna tepung kurang putih. Berdasarkan kadar amilosa, ubikayu dibagi menjadi 2 kelompok, yaitu ubikayu gembur (kadar amilosa lebih dari 20%) yang ditandai secara fisik bila kulit ari yang berwarna coklat terkelupas dan kulit tebalnya mudah dikupas, dan ubikayu kenyal (kadar amilosa kurang dari 20%) yang ditandai bila kulit ari warna coklat tidak terkelupas (lengket pada kulit tebalnya) dan kulit tebalnya sulit dikupas.

Berbagai varietas ubi kayu dapat diolah menjadi tepung mocaf. Pada varietas ubikayu yang berkadar HCN tinggi (ditandai dengan rasa umbi ubi kayu yang pahit) dapat pula dimanfaatkan untuk konsumsi manusia dengan cara mengolah umbinya menjadi tepung mocaf. Kadar HCN yang tinggi dapat direduksi dengan proses pengolahan umbinya menjadi tepung mocaf. Misalnya saja varietas UJ-5 yang memiliki kadar HCN >100 ppm, ketika diolah menjadi tepung mocaf kadar HCN-nya dapat direduksi menjadi 6,14 ppm. Kadar HCN tersebut aman untuk dikonsumsi karena sesuai dengan SNI tepung mocaf dengan nomor SNI 7622:2011 yang mempersyaratkan kadar HCN dari tepung mocaf sebesar maksimal 10 ppm.

Tepung mokaf merupakan tepung yang diolah dari proses fermentasi singkong yang diproses sedemikian rupa sehingga memiliki karakteristik yang berbeda. Prinsip pembuatan tepung mocaf adalah memodifikasi sel ubi kayu secara fermentasi dengan memanfaatkan mikroba BAL (Bakteri Asam Laktat) yang mampu menghasilkan enzim pektinolitik dan selulolitik serta asam laktat, sehingga tepung yang dihasilkan memiliki karakteristik dan kualitas hampir menyerupai terigu (Subagio, 2007). Wahyuningsih dan Haryati (2011), melaporkan bahwa pembuatan tepung mocaf dengan fermentasi alami (tanpa penambahan enzim) memerlukan waktu fermentasi selama tiga hari. Sedangkan, pembuatan tepung mocaf dengan penambahan enzim hanya memerlukan waktu fermentasi 24 jam. Mikroba yang tumbuh menyebabkan perubahan karakteristik dari tepung yang dihasilkan berupa naiknya viskositas, kemampuan gelasi, daya rehidrasi, dan kemudahan melarut. Secara umum proses pembuatan mocaf meliputi tahap-tahap penimbangan, pengupasan, pemotongan, perendaman (Fermentasi), dan pengeringan. Karakteristik MOCAF diduga dipengaruhi oleh jenis kultur yang ditambahkan saat fermentasi, penambahan kultur juga berpengaruh terhadap lama waktu fermentasi ubi kayu (Rahayu,2010).

Cara pengolahan tepung mokaf yaitu sebagai berikut ubi kayu atau singkong dikupas untuk memisahkan ubi kayu dengan kulitnya. Pengupasan dilakukan dengan menggunakan pisau yang tidak berkarat, setelah itu pencucian dilakukan untuk menghilangkan kotoran dan tanah yang masih melekat pada ubi kayu selama pengupasan. Mutu bahan baku yang akan digunakan akan mempengaruhi produk akhir yang dihasilkan, setelah dicuci dilakukan pengirisan, proses ini merupakan proses pengecilan ukuran yang dilakukan untuk menentukan bentuk yang diinginkan dan memudahkan proses selanjutnya. Bentuk potongan ini akan menentukan luas permukaan kontak dengan panas dan juga akan mempengaruhi kinerja starter lactobacillus yang digunakan, kemudian dilakukan penimbangan, ini bertujuan untuk mendapatkan berat bahan yang tepat, setelah di timbang kemudian di fermentasi dengan lactobacillus, proses fermentasi ini dapat memacu pertumbuhan lactobacillus yang berperan dalam mendegradasi komponen-komponen yang ada dalam ubi kayu, menyebabkan perubahan karakteristik tepung serta akan dapat menghasilkan aroma dan citarasa khas yang menutupi aroma dan citarasa ubi kayu yang cenderung tidak menyenangkan,setelah proses fermentasi kemudian dilakukan pengeringan, hal ini bertujuan untuk mengurangi kadar air bahan, berat bahan dan mengawetkan bahan serta memudahkan proses selanjutnya. Proses pengeringan menggunakan sinar matahari bisa juga dengan oven,selanjutnya dilakukan penggilingan yang bertujuan untuk mengecilkan ukuran dan memudahkan proses pengemasannya. Pemblenderan dilakukan pada kecepatan 2 selama 3 menit, dan yang terakhir yaitu pengayakan, dilakukan untuk mendapatkan ukuran produk yang seragam, ayakan yang digunakan berukuran 80 mesh. Ukuran produk yang seragam akan memudahkan untuk analisis (Amanu, Febri N. 2014).

Proses modifikasi pembuatan mocaf dengan fermentasi menggunakan inokulum bakteri asam laktat menyebabkan terjadinya perubahan sifat fisikokimia dan amilografi serta sifat organoleptik tepung. Mocaf bersifat lebih mudah larut di dalam air, lebih mudah mengembang ketika dipanaskan, tidak beraroma khas ubikayu, berwarna lebih cerah/ putih, dan lebih lunak tekstur produknya dibandingkan dengan tepung ubi kayu tanpa fermentasi dan terigu. Proporsi mocaf sebagai bahan substitusi terigu bervariasi antara 30–40% pada produk roti, pastry dan mie, 50–100% pada produk kue basah (cakes), kue kering (cookies), aneka produk gorengan dan jajanan basah/pasar (Yulianti, R.2012).

Pustaka

Prabawati, S ., Nur Richana dan Suismono. 2011. Inovasi Pengolahan Singkong Meingkatkan Pendapatan Dan Diversifikasi Pangan. Agroinovasi Edisi 4-10 Mei 2011 No. 3404 Tahun XLI Badan Litbang Pertanian

Rahayu, E.S. 2010. Lactic Acid Bacteria and Their Role in Food and Health: Current Research in Indonesia. Skripsi Sarjana.UGM.Yogyakarta

Subagio, A. 2007. Industrialisasi Modified Cassava Fluor (Mocaf) sebagai Bahan Baku Industri Pangan untuk Menunjang Diversifikasi Pangan Pokok Nasional. Jember: Fakultas Teknologi Pertanian, Universitas Jember

Sundari, Yusra A.H, Nurliza. (2015). Peran penyuluh pertanian terhadap peningkatan produksi usahatani di Kabupaten Pontianak.Jurnal Social Economic of Agriculture.Volume 4, Nomor 1, April 2015, hlm 26 -3.

Wahyuningsih,S.B. dan Sri Haryati. 2011. Kajian berbagai cara Pembuatan Tepung Mokal Terhadap Sifat Fisika, Mikrobiologi, dan Analisis Ekonominya

Yulfianti,R , Erliana Ginting dan Joko Susilo Utomo. 2012. Tepung Kasava Modifikasi Sebagai Bahan Substitusi Terigu Medukung Diversifikasi Pangan. Buletin Palawija No.23 tahun 2012

 

 

 

PERAN ORANG TUA SEBAGAI PENDAMPING BELAJAR DI MASA PANDEMI COVID-19

 

Lia Aria Ratmawati, SST., M.Kes.

Program Studi Kebidanan Politeknik Banjarnegara

7 Mei 2021

            Pandemi Covid-19 memberikan dampak yang begitu luar biasa bagi Indonesia, termasuk dunia pendidikan. Pembelajaran “daring” sebagai pilihan dalam kondisi pencegahan penyebaran Covid-19. Bahkan pembelajaran ini terkadang dimaknai sebagai pembatasan akses pendidikan. Pendidikan yang sebelumnya dilaksanakan dengan interaksi langsung antara pendidik dan peserta didik sekarang beralih menjadi pembelajaran interaksi tidak langsung. Pembatasan ini membawa berbagai macam dampak dan berpengaruh pada masa adaptasi pembelajaran.

Program belajar dari rumah dilaksanakan secara mandiri di rumah masing-masing dengan sistem “daring”. Adanya kebijakan tersebut membuat orangtua kembali lagi menguatkan perannya untuk menjadi pendidik pertama dan utama bagi anak. Oleh karena itu, keluarga mempunyai peranan penting dalam mempersiapkan pendidikan anak-anaknya untuk mewujudkan cita-citanya. Kegiatan belajar anak tersebut dilaksanakan di rumah dan menjadi tanggungjawab orangtuanya. Kesiapan belajar dari rumah ini dapat dilihat dari bagaimana orangtua dalam membimbing anak selama belajar di rumah. Tidak semua orangtua siap menjalankan pekerjaan rumah sekaligus menjadi guru pengganti selama BDR termasuk kesiapan pada orang tua yang juga bekerja.

 

Berbagai aplikasi media sosial menjadi alat untuk memberikan tugas dan mengirim tugas. Di situlah peran orang tua dimulai, harus bisa menguasai teknologi pembelajaran yang kekinian sehingga bisa mendampingi secara efektif saat anak-anaknya melakukan proses belajar mengajar. Tugas diberikan guru secara harian sesuai jadwal mata pelajaran. Anak-anak kemudian mengerjakan secara mandiri di rumah begitu pula untuk hari-hari berikutnya. Orang tua berperan aktif dalam memantau dan mendampingi putra-putrinya. Orang tua juga bekerjasama dengan guru dalam proses tugas yang dikerjakan oleh anaknya, baik melalui WhatsApp, video call, aplikasi Google Classroom atauapun aplikasi belajar lain yang digunakan. Tidak bisa  dipungkiri, perasaan jenuh dan bosan baik orang tua maupun anak terkadang muncul sebagai respon menghadapi situasi pembelajaran tersebut. Untuk mengantisipasi hal tersebut, diperlukan kreatifitas orang tua dan kerjasama guru dalam mendesain pembelajaran dengan baik agar anak lebih antusias dalam proses belajar.

 

Kondisi pembelajaran pada masa pandemi bisa dimanfaatkan dengan perubahan pola berpikir dan pola belajar sehingga memaksimalkan produktivitas. Setiap individu harus tanggap terhadap keterbatasan di masa pandemi untuk tetap produktif dan memaknai kondisi ini sebagai bagian dari perubahan yang tetap harus mengedepankan sikap dan perilaku yang positif. Setiap perubahan dalam sistem pembelajaran dapat mendesain kondisi baru yang menyesuaikan dengan perubahan lingkungan tanpa mengesampingkan terwujudkan capaian pembelajaran yang sedang dilaksanakan.



 

PESTISIDA NABATI : BIOPESTISIDA UNTUK KEAMANAN PRODUK PANGAN

Eko Apriliyanto, S.P., M.Sc.

Program Studi D-3 Agroindustri Politeknik Banjarnegara  

7 Mei 2021  

 

Pangan segar asal tumbuhan adalah pangan asal tumbuhan yang dihasilkan dari proses pasca panen untuk konsumsi, maupun sebagai bahan baku. Jenis pangan ini dapat berupa buah dan sayur. Pangan segar asal tumbuhan merupakan pangan yang beresiko tinggi terhadap cemaran kimia (residu pestisida, mikotoksin, logam berat) yang dapat mengganggu kesehatan manusia sehingga perlu dilakukan pengawasan keamanan pangan terhadap pemasukan pangan segar asal tumbuhan mulai dari tempat produksi. 

Pestisida yang terhirup melalui saluran pernafasan menyebabkan sakit tenggorokan, pilek, batuk, kesulitan bernafas, hingga kegagalan bernafas. Jika pestisida masuk ke dalam tubuh melalui saluran pencernaan, dampak akut yang ditimbulkannya berupa gejala keracunan seperti denyut jantung tidak teratur, mual, muntah, diare, dan nyeri perut. Paparan pestisida dalam jangka panjang menimbulkan gangguan kesehatan yang bersifat kronis. Di antaranya adalah: peningkatan risiko kanker, kerusakan sistem saraf (seperti parkinson), gangguan reproduksi serta kerusakan organ tubuh. Selain itu pestisida bersifat mutagenik yang dapat menyebabkan kerusakan genetik untuk generasi yang akan datang dan teratogenik yang dapat menyebabkan bayi lahir cacat dari ibu yang secara rutin mengkonsumsi sayuran dan buah yang disemprot pestisida.

Upaya peningkatan keamanan dari penggunaan pestisida kimia sintetik, dapat diganti dengan biopestisida. Biopestisida adalah pestisida yang berasal dari bahan makhluk hidup (umumnya dari tumbuhan dan mikroba). Berbeda dengan pestisida kimia sintetik yang jika digunakan dalam dosis dan konsentrasi berlebihan dapat memberikan banyak dampak negatif  baik  bagi manusia maupun organisme pengganggu sasaran. Biopestisida bersifat ramah lingkungan, baik untuk manusia maupun lingkungan sekitar. Contoh bahan nabati yang berpotensi sebagai pestisida yaitu daun sirsak (Annona muricata) dan daun gulma siam/ kirinyu (Chromolaena odorata).

 

Berikut ini tentang pestisida nabati dengan beberapa fungsi, keunggulan dan kelemahannya. Pestisida nabati memiliki berbagai fungsi, yaitu: 1) Sebagai repelen, yaitu menolak kehadiran serangga karena bau yang menyengat. 2) Sebagai antifidan, yaitu mencegah serangga memakan tanaman yang telah disemprot karena ada rasa pahit. 3) Mencegah serangga meletakkan telur. 4) Sebagai racun syaraf. 5) Mengacaukan sistem hormon di dalam tubuh serangga. 6) Sebagai atraktan, yaitu pemikat kehadiran serangga pada perangkap serangga. 7) Mengendalikan pertumbuhan jamur maupun bakteri.

 

Pestisida nabati memiliki beberapa keunggulan, yaitu: 1) Senyawa aktif mudah terurai di alam, sehingga kadar residu relatif kecil, peluang untuk membunuh serangga bukan sasaran rendah, dan dapat digunakan beberapa saat menjelang panen. 2) Cara kerja spesifik, sehingga aman terhadap manusia dan ternak. 3) Tidak mudah menimbulkan resistensi, karena jumlah senyawa aktif lebih dari satu. 4) Tidak meracuni tanaman. Pestisida nabati memiliki beberapa kelemahan yaitu: 1) Persistensi yang singkat sehingga pada populasi hama yang tinggi diperlukan aplikasi yang berulang-ulang. 2) Biaya produksi mahal, sehingga harga lebih mahal dari insektisida sintetik. 3) Ketersediaan di pasaran (toko pertanian) masih sangat terbatas 4) Frekuensi pemakaian lebih tinggi, karena sifat racunnya mudah terdegradasi.

 

Kendala pengembangan pestisida nabati yaitu: 1) Petani lebih memilih pestisida kimia dari pada nabati. 2) Kurangnya dorongan penentu kebijakan. 3) Bahan tidak tersedia secara berkesinambungan, seperti biji mimba hanya dapat dipanen setahun sekali. 4) Memerlukan persiapan yang agak lama, untuk mendapatkan konsentrasi bahan pestisida yang baik, harus dilakukan perendaman lebih dari 12 jam (lebih dari semalam).

 

REFERENSI

Apriliyanto, E., Suhastyo, A.A. 2018. Uji keefektifan ekstrak daun sirsak dan gulma siam untuk pengendalian hama kepik coklat kedelai. Media Agrosaains. 4 (1) : 1-8.

Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kota Batam. 2019. Uji Keamanan Pangan. https://distankp.batam.go.id/uji-keamanan-pangan/. Diakses 30 April 2021.

Haryati, D.W.T. 2020. Bahaya Pestisida Pada Buah dan Sayur.  Distanpangan Kab. Magelang. https://distanpangan.magelangkab.go.id/home/detail/bahaya-pestisida-pada-buah-dan-sayur/331. Diakses 30 April 2021.

Indiati, S.W. 2017. Pemanfaatan Pestisida Nabati untuk Pengendalian OPT pada Tanaman Kedelai. In Bunga Rampai: Teknik Produksi Benih Kedelai. Hal. 129–138. IAARD Press.

 

                                                                                    

PRODUKSI ASI KURANG? KO BISA, GIMANA CARANYA YA BIAR ASI LEBIH BANYAK???

Oleh : Ratih Subekti, S.SiT, M.Kes
Program Studi DIII Kebidanan Politeknik Banjarnegara
Jum’at, 23 April 2021

Cara Meningkatkan produksi ASI :

Bunda dapat memperbaiki pola makan yang dapat membantu memperlancar ASI. Ada banyak pilihan tanaman yang tersedia di sekitar kita loh, antara lain :

  1. Daun Kelor ( Moringa oleifera)

Mengandung senyawa alkaloid, flavonoid, steroid, terpenoid, tannin, saponin, karbohidrat, glikosida dan gula tereduksi. Dalam 100 gr daun kelor mengandung Fe 5,49 mg, fotosferol yakni sitosterol 1,15%, stigmasterol 1,52%. Steroid memiliki kualitas sebagai lactagogue (meningkatkan sekresi ASI). Dapat diolah sebagai sayur bening, tumis, rebus atau diurap.

  1. Daun Katuk (Sarapus androgynus (L) Merr)

Daun katuk mengandung senyawa fitokimia yaitu alkaloid (papaverin) dan sterol (fitosterol) yang dapat meningkatkan kadar prolaktin dan oksitoksin serta zat gizi sebagai bahan baku sintesis ASI. Papaverin menghambat reseptor dopamin sehingga dapat merangsang pelepasan prolaktin. Semakin tinggi pemberian daun katuk, semakin tinggi papaverin yang dikonsumsi. Jika sekresi prolaktin meningkat maka akan meningkatkan sekresi dopamin. Sekresi dopamin menyebabkan inhibisi sekresi prolaktin. Dapat dibuat jus, lalapan, urap, sayur bening, direbus, ditumis dan ekstrak daun katuk.

  1. Biji Kelabet (Trigonelle foenum-graecum Linn)

Mengandung beberapa sapogenin steroidnya yaitu diosgenin, mengandung minyak lemak 20-30%, alkaloid dan flavonoid. Memiliki efek estrogenik. Estrogen merangsang pertumbuhan stroma dan sistem saluran serta penimbunan lemak yang memberikan masa pada kelenjar mamae. Bersama progesteron, estrogen berfungsi merangsang pertumbuhan alveoli kelenjar susu, sekresi air susu dipengaruhi oleh efek laktagogum dr hormon prolaktin. Biji kelabet memiliki efek laktagogum yang mampu meningkatkan hormon prolaktin sehingga terjadi peningkatan prosuksi ASI.  Dapat dibuat teh biji kelabet.

  1. Jantung Pisang Batu (Musa Balbisiana Colla)

Mengandung laktagogum memiliki potensi dalam menstimulasi hormon oksitoksin dan prolaktin seperti alkaloid, polifenol, steroid, flavonoid. Dapat dibuat masakan tumis seperti jantung pisang kuah bening.

  1. Temulawak (curcuma xanthorrhiza Roxb)

Kaya antioksidan dan komponen sekunder metabolit kurkuminoid dan golongan flavonoid. Mengandung vit A, sumber polifenol yang sangat baik untuk meningkatkan kadar prolaktin dan produksi ASI. Mengandung unsur lipid dan struktur hormonal yang berperan dalam proses produksi ASI karena adanya efek laktagogum. Dapat dikonsumsi dengan lainnya (temu ireng, temu putih, daun katuk, dan empon2 lainnya). Dapat disajikan sebagai minuman temulawak madu segar.       

  1. Bayam merah (Amaranthus hybridus L)

kandungan : protein, lemak, karbohidrat, kalsium, fosfot besi, vitamin A, Vitamin B Vitamin C, Air, mengandung banyak serat dan di dalam daunnya terdapat karotein, klorofil, dan saponon. Sementara pada batangnya ditemukan alkaloid, flavonoid, dan polifenol. Bayam merah ini dapat membantu memperlancar ASI.

  1. Bangun-bangun (Plectranthus amboinicus (Lour)

Kandungan: saponin, flavonoid, polifenol, yang dapat meningkatkan hormon-hormon menyusui, seperti prolactin dan oksitosin. Bangun-bangun juga mengandung zat besi dan karotenoid. memiliki manfaat sebagai pelancar ASI.

      8. Daun singkong (Manihot esculenta Crantz)

Mengandung banyak senyawa, seperti: Vitamin A Vitamin B17 Vitamin C Kalsium Fosfor Protein Lemak Hidrat arang Zat besi Asam amino Asam Glutamik Fenilalanin Tirosin Triptofan. Daun singkong ini dapat membantu memperbanyak produksi ASI.

  1. Kacang hijau (Phaseolus radiates L)

Mengandung: Protein Mineral Kalsium Fosfor Lemak Vitamin B1 (tiamin) Vitamin B2 (riboflavin). Dengan kandungan nutrisi tersebut, kacang hijau memiliki manfaat memperbanyak produksi ASI.

 Pare (Momordica charantia L)

kandungan: Senyawa alkaloid Triterpenoid Saponin Flavonoid diduga dapat bersifat toksik pada kadar tertentu. Dengan kandungan tersebut, pare pun dianggap memiliki manfaat sebagai pelancar ASI.

  1. Pepaya ( Carica papaya L.)

Kandungan : Protein Gula Vitamin A dan vitamin B (thiamin, riboflavin) Vitamin C (asam askorbat) Vitamin D Asam folat Karotenoid Karbohidrat (fluktosa, glukosa, manitol, xylitol) Minak atsiri Getah yang terkandung dalam setiap bagian tanaman pepaya bahkan mengandung sejumlah enzim (esterase, protease) dan enzim yang paling banyak terkandung adalah papain (enzim proteolitik) dan kimopapain. Dengan kandungan nutrisi tersebut, buah pepaya akhirnya dianggap memiliki manfaat sebagai berikut: Pelancar ASI.

Selain dengan memperbaiki pola nutrisi, pijatan dan perawatan payudara, konsumsi booster pelancar ASI juga dapat dilakukan. Oh ya, ibu juga ga boleh stress dan ga boleh kurang istirahat. Semoga bermanfaat.

 

 

PEMANFAATAN PEKARANGAN DENGAN HIDROPONIK

Ir. Sapto Wibowo, MP
Program Studi Agroindustri Politeknik Banjarnegara
Jum’at, 23 April 2021

Pada awalnya bercocok tanam merupakan kegiatan yang dilakukan di lahan, baik di sawah atau ladang, di mana pengolahan lahan masih menggunakan cangkul (secara konvensional) atau yang modern menggunakan alat dan mesin pertanian, dengan tanah/lumpur yang melekat di badan, dan panasnya terik matahari. Namun, hal itu sekarang bisa dihindari, dengan bercocok tanam secara hidroponik.

 Bercocok tanam sayuran secara hidroponik, selain memiliki nilai estetika, juga memiliki unsur produktif untuk dikonsumsi. Pemanfaatan hasil bertanam hidroponik dapat langsung dirasakan oleh pemilik dan lingkungan sekitarnya. Bahkan selain sebagai hobi, bercocok tanam secara hidroponik juga dapat dikembangkan menjadi skala usaha agrobisnis. Dengan demikian, kehadiran hidroponik menambah ragam pertanian modern dalam menjawab berbagai permasalahan dalam sistem pertanian konvensional.

Bercocok tanam sayuran dengan sistem hidroponik merupakan solusi pertanian yang sangat potensial untuk dikembangkan di wilayah perkotaan (urban farming), terutama di masa pandemi covid-19 ini, dalam rangka memenuhi kebutuhan pangan serta ketahanan pangan keluarga. Selain itu, hidroponik merupakan jawaban atas permasalahan lahan, baik penyempitan lahan maupun permasalahan lahan marginal yang belum dikelola dengan baik. Meningkatnya alih fungsi lahan dari sektor pertanian ke non pertanian membuat lahan pertanian semakin sempit. Oleh karena itu perlu dikembangkan pemanfaatan pekarangan untuk mengatasi masalah tersebut dengan sistem hidroponik.

Apa yang dimaksud dengan hidroponik dan bagaimana perkembangannya?

Hidroponik berasal dari bahasa Yunani, yaitu hydro (air) dan ponos (memberdayakan), sehingga hidroponik diartikan sebagai budidaya tanaman dengan memberdayakan air. Dalam perkembangannya hidroponik diartikan sebagai budidaya tanaman dengan media selain tanah. Penemu dari metode hidroponik ini adalah DR. WF. Gericke (1925).  Beliau adalah seorang agronomis dari Universitas California, USA. Saat itu beliau berhasil menanam tomat setinggi 3 meter yang penuh buah dan ditanam di dalam bak yang berisi mineral hasil uji cobanya. Saat ini, bercocok tanam secara hidroponik saat ini berkembang di banyak negara, dan pada tahun 1980 mulai dikembangkan secara komersial di Indonesia, antara lain PT. Mekarsari Bogor, CV. Anugrah Agung Abadi Bogor, CV. Casa Farm Hidroponik Bandung, CV. Baraponik Banjarnegara, dan lain-lain.

Kelebihan bercocok tanam secara hidroponik, diantaranya adalah dapat dilakukan pada tempat yang terbatas (sempit), lebih terjamin dari serangan hama dan penyakit, serta kualitas tanaman yang dihasilkan lebih bagus dan tidak kotor. Sedang kekurangannya adalah hanya khusus untuk tanaman tertentu, beberapa metode sangat tergantung pompa dan listrik, investasi awal cukup tinggi (untuk beberapa metode).

Metode hidroponik

Banyak metode yang bisa diaplikasikan untuk hidroponik, mulai dari yang sederhana hingga yang modern. Beberapa metode ini merupakan metode yang paling umum, yaitu rakit apung (floating hydroponic system), sistem sumbu (wick system). verticulture / vertical garden, sistem statis, NFT (nutrient film technique), DFT (deep flow technique), pasang surut (ebb and flow / flood and drain), irigasi tetes (drips irrigation), aquaponik, dan aeroponik.

Media tanam, wadah, dan jenis tanaman untuk hidroponik

Media tanam hidroponik, pada dasarnya dibedakan menjadi dua, yaitu media tanam organik dan media tanam non organik. Media tanam organik merupakan media tanam yang mudah terurai, misalnya arang sekam, kompos, serbuk gergaji, sabut kelapa, akar pakis, cocopeat, dan lain-lain. Sedang media tanam non organik merupakan media tanam yang tidak mudah terurai, misalnya rockwool (merupakan media yang saat ini umum digunakan), batu koral, batu apung, batu bata, batu karang, dan lain-lain. Masing-masing media tanam memiliki kelebihan dan kekurangan.

Wadah yang bisa digunakan untuk bercocok tanam secara hidroponik bisa berupa barang bekas atau wadah khusus untuk hidroponik. Barang bekas misalnya botol/gelas air mineral, ember bekas, tempat cat, dan lain-lain. Sedang wadah khusus hidroponik misalnya bak semen, bak plastik, pipa talang, pipa PVC, net pot, dan lain-lain.

Jenis tanaman yang cocok untuk hidroponik bisa berupa tanaman sayuran, tanaman buah, dan tanaman hias. Tanaman sayuran misalnya selada, sawi, pakcoy, tomat, wortel, brokoli, cabai, seledri, bawang merah, bawang putih, bawang daun, dan lain-lain. Tanaman buah misalnya melon, mentimun, semangka, strawberi, dan lain-lain. Tanaman hias misalnya krisan, anggrek, kaladium, dan lain-lain. Yang harus diperhatikan adalah pilih tanaman yang cepat tumbuh, berumur pendek, dan memiliki nilai jual tinggi.

 Pupuk Hidroponik

Pupuk yang digunakan dalam bercocok tanam secara hidroponik berupa AB mix, yang selanjutnya dicairkan menjadi larutan nutrisi. Dalam larutan nutrisi yang dibutuhkan oleh tanaman harus mengandung 16 unsur hara, 3 sudah disediakan alam (C, H, O), 6 dalam bentuk unsur hara makro, dan 7 dalam bentuk unsur hara mikro. Unsur hara adalah senyawa organik dan non organik yang ada di dalam tanah, atau dengan kata lain nutrisi yang terkandung dalam tanah. Unsur hara dibedakan menjadi unsur hara makro dan unsur hara mikro. Unsur hara makro adalah unsur hara yang dibutuhkan tanaman dalam jumlah besar, seperti nitrogen (N), fospor (P), kalium (K), magnesium (Mg), belerang (S), kalsium (Ca). Sedang unsur hara mikro adalah unsur hara yang dibutuhkan tanaman dalam jumlah kecil/sedikit, seperti besi (Fe), mangan (Mn), boron (B), seng (Zn), molybdenum (Mo), cufrum (Cu), silikat (Si).

 

PEMBERDAYAAN MASYARAKAT KELOMPOK WANITA TANI SINGKONG

DI KABUPATEN BANJARNEGARA

 

Sarno, SP.,MP
Dosen Program Studi Agroindustri Politeknik Banjarnegara
26 April 2021

Kelompok wanita tani Desa Majalengka Kecamatan Bawang Kabupaten Banjarnegara merupakan salah satu kelompok masyarakat wanita tani yang terus eksis mengembangkan secara turun temurun produksi pangan lokal singkong yang memiliki banyak potensi. Desa yang memiliki luas wilayah mencapai 523,870 hektar atau sekitar 9,489 % dari luas keseluruhan Kecamatan Bawang 5.520,637 hektar memiliki jumlah penduduk 3.703 jiwa. Potensi yang dimiliki meliputi pemanfaatan lahan tegalan atau lahan kering seluas 445 hektar, lahan sawah sekitar 54 hektar, sedangkan lahan untuk fasilitas umum sekitar 25 hektar. Lahan tegalan atau kering semua ditanam singkong dengan potensi hasil mencapai rata-rata 5 ton/hektar. Hampir semua hasil panen singkong yang dihasilkan dijual langsung ke konsumen atau ke pasar. Munculnya semangat dan motivasi warga masyarakat yang tergabung dalam kelompok wanita tani singkong tersebut sejak tahun 2013 dan sampai sekarang terus berkembang pesat meskipun terdapat berbagai kendala seperti munculnya hama dan penyakit, harga pasaran singkong yang rendah dan aksesnya masih tertutup, dan belum lagi ditambah keterampilan serta pengetahuan para kelompok yang masih terbatas terkait dengan diversifikasi produk olahan singkong. Produksi atau hasil panen singkong yang dihasilkan oleh mencapai 70 ton. Produktivitasnya 10 ton/hektar. Sejak awal berdirinya belum banyak melakukan kegiatan pengolahan singkong menjadi olahan pangan lainnya. Hal ini disebabkan oleh keterbatasan pengetahuan dan keterampilan para anggota kelompok terhadap diversifikasi produk olahan singkong. Kebanyakan dari anggota kelompok menjual langsung hasil panen singkongnya ke pasar, meskipun harga singkong di pasar rendah yaitu sekitar Rp 600,-/Kg – Rp 1.200,-/Kg. Sementara wilayah pemasaran produk olahan singkong sejauh ini masih dalam wilayah lokalKegiatan pemberdayaan masyarakat kelompok wanita tani singkong di Kabupaten Banjarnegara bertujuan untuk peningkatan kualitas produk, manajemen kelembagaan, pengembangan home industri berbasis potensi lokal mendukung peningkatan pendapatan dan

kesejahteraan masyarakat khususnya para anggota kelompok wanita tani. Kegiatan pemberdayaan

masyarakat dilakukan menggunakan metode sebagai berikut : (a) Pendidikan masyarakat yang dilakukan melalui kegiatan penyuluhan dan sosialisasi, yaitu penyuluhan tentang teknik budidaya singkong secara baik dan benar (Good Agriculture Practise), teknik penanganan panen dan pascapanen
(Good Handling Practise), dan teknik pengolahan
singkong (Good Manufacturing Practise), (b) kegiatan difusi ipteks, yaitu kegiatan pelatihan tentang penerapan diversifikasi dan inovasi produk olahan singkong menjadi nasi tiwul instant, tepung mocaf, dan kerupuk singkong, teknik pengemasan dan pelabelan produk, penerapan sistem bauran pemasaran dan promosi, (c) kegiatan advokasi, yaitu kegiatan pendampingan berkelanjutan tentang produksi singkong dengan bentuk atau jenis lainnya
mulai dari pra produksi sampai pasca produksi, pendampingan manajemen pemasaran,
kewirausahaan, manajemen bisnis kecilHasil kegiatan pemberdayaan masyarakat pada kelompok wanita tani singkong di Kabupaten Banjarnegara dijelaskan sebagai berikut : a) kebutuhan bahan baku dapat dipenuhi sendiri dari hasil budidaya singkong para anggota kelompok. Mutu bahan baku sudah terkontrol dengan baik. Teknik budidaya singkong sudah intensif, pola tanam teratur, penanganan hama dan penyakit tertangani, (b) rata-rata produksi singkong mencapai 12 ton/hektar. Produksi hasil olahan singkong seperti nasi tiwul mencapai 200 kg/bulan, tepung mocaf 100 kg/bulan, dan kerupuk 100 kg/bulan, (c) harga jual produk olahan nasi tiwul Rp 12.000,-/kg, tepung mocaf Rp 10.000,-/kg, dan kerupuk Rp 15.000,-/kg, (d) penerimaan yang diperoleh untuk nasi tiwul Rp 2.400.000,-/bulan, tepung mocaf Rp 1.000.000,- dan kerupuk Rp 1.500.000,- sehingga total Rp 4.900.000,-/bulan, (e) omzet yang diperoleh dari nasi tiwul Rp 1.400.000,-/bulan, tepung mocaf Rp 500.000,-/bulan, dan kerupuk Rp 1.000.000,-/bulan. Total Rp 2.900.000,-/bulan, (f) wilayah pemasarannya sudah meluas ke luar wilayah wilayah bahkan luar daerah dan antar kabupaten dan teknik pemasarannya sudah efektif dan efisien, melalui agen dan pengecer.

 

Dokumentasi kegiatan pemberdayaan masyarakat kelompok wanita tani
singkong di Kabupaten Banjarnegara

Sumber :

Sarno,
Lukmanul, H,. 2018. Program Kemitraan
Masyarakat Kelompok Wanita Tani Desa Majalengka Kecamatan Bawang Kabupaten
Banjarnegara yang Menerapkan Teknologi Diversifikasi Produk Olahan Singkong
.
Laporan Hibah Skim PKM Ditlitabmas, Ristek Dikti.

 

BEBAS STRES PADA KEHAMILAN DI MASA PANDEMI? EMANG BISA???

Dian Nirmala Sari, S.SiT., M.Tr.Keb                                                                                                       
Dosen DIII Kebidanan Politeknik Banjarnegara

Situasi pandemi covid 19 sekarang ini membuat semua orang khawatir dan panik, tidak terkecuali bagi kaum perempuan yang sedang dalam masa kehamilan. Hal tersebut pasti bisa membuat khawatir yang akhirnya dapat membebani pikiran. Apabila tidak disolusikan dapat berdampak pada stress. Stres merupakan reaksi tubuh terhadap situasi yang tampak berbahaya atau sulit. Stres yang ringan berguna dan dapat menstimulasi seseorang untuk berpikir dan berusaha lebih cepat dan keras sehingga dapat melewati tantangan kehidupan sehari-hari. Stres ringan bisa merangsang dan memberikan rasa lebih bergairah dalam kehidupan yang biasanya membosankan dan rutin. Tetapi stress yang terlalu banyak dan berkelanjutan, bila tidak ditanggulangi, akan berbahaya bagi kesehatan khususnya bagi ibu hamil dan janin. reaksi tubuh dampak dari stress yang muncul yaitu tekanan darah tinggi, insomnia, mudah tersinggung, jantung berdebar-debar, otot menjadi kaku. Rekasi tubuh ini dinamakan psikosomatis.

Menurut pakar menjelaskan bahwa gejala psikosomatik muncul disebabkan  ketidakstabilan sistem saraf otonom, yaitu sistem saraf simpatis dan parasimpatis yang tidak seimbang. Hal ini terjadi karena faktor stres yang tidak bisa diadaptasi dengan baik. “Salah satu yang membuat reaksi ini bisa timbul adalah kecemasan yang dipicu oleh berita yang terus menerus terkait Covid-19. Mengikuti segala macam perkembangan dan informasi terbaru mengenai virus COVID-19 memang penting sebagai bentuk kewaspadaan kita terhadap ancaman penyakit berbahaya ini. Namun, terus-menerus terpapar oleh beraneka informasi, yang entah benar-benar sahih atau tidak, bisa membuat kita jadi merasa cepat khawatir dan cemas serta mudah panik.

Kemudian bagaimanakah dampak psikosomatis/stress berlebihan pada masa kehamilan?

Hormon kortisol  merupakan hormon glukokotikoid utama yang dihasilkan oleh korteks adrenal manusia. Hormon ini berfungsi untuk mengontrol atau mengelola stress oleh karena itu disebut juga hormon stress. Pada saat ibu hamil mengalami stress yang berlebihan maka hormon kortisol juga akan naik. Hal ini tentu akan berdampak bagi kesehatan ibu dan janinnya. Dampak dari stress atau psikosomatik berlebihan pada kehamilan adalah berisiko melahirkan prematur, tekanan darah tinggi, hambatan pertumbuhan janin, dan berat badan lahir rendah (BBLR). Apabila stress yang dialami tidak disolusikan maka tubuh akan secara kontineu menghasilkan hormon kortisol/hormon stress maka dapat juga menurunkan imunitas tubuh artinya ibu hamil menjadi rentan terhadap berbagai macam penyakit yang tentunya dapat membahayakan.

Kiat atau trik bebas stress pada masa kehamilan di masa pandemi covid 19?

Untuk menjaga tubuh tetap sehat dan terbebas dari stress yang berlebihan maka kita harus melakukan pola hidup sehat. Apa saja ya yang bisa dilakukan?

Yang bisa dilakukan adalah terapkan pola hidup bersih sehat. Tidur teratur, lakukan aktivitas fisik yang bisa dilakukan dalam ruangan, cuci tangan secara berkala, relaksasi menghirup udara segar di pekarangan atau balkon, dan makan makanan bergizi adalah aktivitas yang bisa menjaga daya tahan tubuh.

Selanjutnya yaitu berdzikir. Dzikir diartikan menyebut dan mengucapkan nama Allah atau menjaga dalam ingatan (mengingat). Dzikir dan doa dapat memurnikan hati, pikiran, dan jiwa, hal ini adalah sumber harapan, keberanian, kepercayaan diri, kesabaran, mengontrol kecemasan, depresi, dan masalah emosional lainnya.  Dzikir memiliki daya relaksasi yang dapat mengurangi ketegangan (stres) dan mendatangkan ketenangan jiwa. Keyakinan kuat terhadap Tuhan dapat menimbulkan kontrol yang kuat, dapat memaknai dan menerima setiap peristiwa yang tidak menyenangkan ke arah yang lebih positif dan yakin bahwa ada yang mengatur setiap peristiwa yang terjadi di alam semesta. Dengan begitu individu dapat mengurangi ketegangan (stres), mengatasi masalah kesehatan dan meningkatkan kekuatan mental dengan cepat. Dzikir juga terbukti secara ilmiah dapat menurunkan kortisol dalam tubuh.

 

 

DETEKSI LALAT BUAH UNTUK PENINGKATAN KUALITAS PRODUK AGROINDUSTRI  BERBAHAN DASAR BUAH SEGAR

 

Eko Apriliyanto                                                                                                                                 
Program Studi Agroindustri Politeknik Banjarnegara                                                                       
19 Maret 2021

Kerusakan buah pasca panen dapat berupa busuk buah yang menyebabkan penurunan kualitas buah, bahkan menjadi tidak laku di pasar. Konsumen kadang kala memperoleh buah yang dibelinya dengan kondisi kulit buah yang bersih, mulus, dan tanpa cacat lainnya, tetapi saat dibelah atau dibuka ternyata bagian dalam buah sudah busuk. Busuk buah tersebut dapat disebabkan oleh organisme pengganggu berupa serangga hama yang ada sejak buah masih di tanaman. Salah satu penyebab kerusakan buah dapat terjadi mulai buah masih dalam pertanaman berupa lalat buah. Lalat buah (Bactrocera sp.) dapat mulai menyerang buah saat buah masih pada tanaman, selanjutnya telur lalat buah menetas dan larva memakan buah dari dalam buah. Kerusakan buah tersebut hampir tidak terlihat pada bagian luar buah. Lalat buah merupakan salah satu hama utama tanaman hortikultura, baik sayur buah maupun buah konsumsi. Lalat buah ini dapat memberikan kerugian baik secara kuantitatif maupun kualitatif. Kerugian kuantitatif ini berupa berkurangnya hasil panen, sedangkan kerugian kualitatif berupa hasil panen yang mudah busuk dan mengalami cacat pada bentuk buah.

Pengembangan agroindustri berbahan baku buah segar dapat terkendala dengan kurangnya pengetahuan tentang adanya serangan lalat buah yang masih ada saat pasca panen. Kualitas buah yang baik, akan menjadikan produk agroindustri juga lebih baik. Saat ini telah banyak berkembang agroindustri berbahan baku buah. Contoh produk agroindustri berbahan dasar buah yaitu dodol  atau jenang, sirup buah, manisan buah, asinan buah, koktail, keripik buah, dan lainnya. Beberapa jenis buah yang sering digunakan sebagai bahan baku produk agroindustri berbahan buah segar yaitu  buah nangka, apel, jambu biji merah, sirsak, buah naga, dan lainnya. Pengetahuan tentang pentingnya kualitas buah yang tidak terserang lalat buah dapat menjadi acuan dalam upaya awal menjaga kualitas produk agroindustri berbahan dasar buah segar. Upaya pengendalian lalat buah umumnya dilakukan saat buah masih di pertanaman baik secara kimiawi maupun dengan cara ramah lingkungan. Penelitian Apriliyanto dan Setiawan (2016) bahwa populasi musuh alami berupa parasitoid famili Braconidae yang dikaji pada Kecamatan Pagentan, Purwanegara, dan Karangkobar, Kabupaten Banjarnegara juga belum mampu menurunkan populasi lalat buah pada tanaman cabai.

Gambar 1. Serangan lalat buah pada mangga (Coraf, 2017).

Deteksi keberadaan lalat buah dapat dilakukan dengan pemeriksaan kulit buah secara teliti. Buah yang sudah diinfestasi dengan telur lalat buah dengan ciri-ciri terdapat bitnik atau titik hitam pada kulit buah sebagai tempat awal mula lalat betina menusukkan telur-telurnya masuk ke dalam buah. Cara kedua deteksi lalat buah yaitu dengan melakukan pembelahan pada buah untuk dicek keberadaan larva lalat buahnya, tetapi cara ini akan merusak buah. Bahkan umumnya penjual tidak mengijinkan cara ini.  Cara ketiga deteksi lalat buah berdasarkan hasil riset Indrianti dan Widian (2019) bahwa lalat buah dapat dideteksi menggunakan sensor ultrasonik HC-SR04. Pengukuran paling efektif dilakukan pada saat jarak antara sensor ultrasonik dengan buah yang diuji yaitu 6 cm. Rancangan sistem yang dapat mendeteksi keberadaan lalat buah ini dengan nilai tegangan keluaran di atas 30 mV untuk buah yang terinfestasi lalat buah dan dibawah 30 mV untuk buah yang tidak berlalat buah. Hasil pendeteksian lalat buah telah dapat mengaktifkan buzzer untuk menghasilkan bunyi peringatan, menampilkan secara real time pada LCD (Liquid Cristal Display) nilai tegangan keluaran dan kondisi lalat buah di dalamnya.

REFERENSI

 Apriliyanto, E., Setiawan, B.H. 2016.  Populasi lalat buah (Bactrocera spp.) dan parasitoidnya pada pertanaman cabai di Banjarnegara. Media Agrosains. 2 (1) : 11 – 15.  Coraf. 2017. Takes on Fruit Flies to Save Millions in Mango Losses. Fruit FliesFruits and LegumesNews. http://www.coraf.org/2017/10/16/coraf-takes-on-fruit-flies-to-save-millions-in-mango-losses/Diakses 17 Maret 2021. Indrianti, M.S., Wildian. 2019. Rancang bangun alat pendeteksi ulat dalam buah mangga menggunakan sensor ultrasonik. Jurnal Fisika Unand.  8 (4) : 336 – 341.

 

 

PROSES KEHAMILAN DAN PERUBAHANNYA

Pernah enggak sih kita berfikir sederhana proses kehamilan itu seperti apa? Sederhana banget kok bisa dari perut yang tadinya kecil tiba-tiba bisa membesar? Harus kita akui peristiwa kehamilan adalah suatu keajaiban. Peristiwa yang luar biasa. Semakin kita tahu prosesnya semakin kita kagum dengan kekuasaan Alloh.

Peristiwa ini sudah dijelaskan jauh dan lama sebelum teknologi berkembang seperti saat ini. Yaitu Dalam Al-Quran disebutkan bahwa kita berasal dari saripati tanah yang berubah menjadi segumpal daging dan ditiupkan ruh sampai akhirnya kita dilahirkan ke dunia.

Jadi laki-laki dan perempuan ketika mereka berhubungan intim laki-laki menghasilkan sperma dan pada tahap ovulasi perempuan menghasilkan sel telur. Rasio keberhasilan kehamilan adalah 1 banding 200 juta sperma. Karena perempuan hanya mampu menghasilkan satu sel telur di setiap bulannya yang disebut dengan ovulasi atau masa subur perempuan. Sel telur tersebut akan berjalan ke Tuba Fallopi dan menunggu sperma yang akan membuahi. Jika tidak ada sperma yang masuk untuk membuahi sel telur maka tidak terjadi proses kehamilan dan sel telur akan bergerak menuju rahim atau uterus kemudian hancur. Apabila sel telur tersebut dibuahi terjadi proses fertilisasi. Proses kehamilan dimulai di sini di mana sel telur yang telah dibuahi dan sel telur secara otomatis akan mengubah dirinya sehingga tidak ada sperma lain yang bisa masuk membuahi.  kemudian akan menempel di dinding rahim.  Hanya satu sperma yg bisa membuahi sel telur. Bisa di bayangkan ini peristiwa yang sangat mengagumkan?

Selama kehamilan, tubuh wanita mengalami banyak perubahan. Mulai dari perubahan secara emosional maupun fisiologis. Perubahan sikap dan emosi merupakan hal yang wajar selama kehamilan. Fenomena ini dialami oeh sebagian besar ibu hamil. Perubahan suasana hati ini bisa membuat bumil mudah tersinggung, marah-marah atau menangis.

Hal ini disebabkan karena peningkatan hormon estrogen dan progesteron. Di mana kedua hormon ini berpengaruh terhadap neotransmitter (zat kimia di otak) yang bertugas mengatur suasana hati. Tidak hanya sensitif secara emosional, perubahan hormon pada trimester pertama kehamilan membuat ibu hamil menjadi lebih sensitif terhadap rangsangan. Rangsangan ini dapat dirasakan salah satunya melalui hidung. ibu hamil akan mudah peka terhadap aroma yang tak sedap bahkan bisa menyebabkan mual dan muntah.

Namun sekali lagi, tidak semua kadar kepekaan hidung ibu hamil sama. Setiap ibu hamil peka terhadap aroma yang berbeda-beda.

Perubahan-perubahan ini adalah bagian alami dari kehamilan dan terjadi karena penyesuaian tubuh terhadap tumbuh kembang janin. Salah satunya pada tahap pembentukan embrio awal, di mana terjadi perubahan signifikan pada semua sistem tubuh. Ini adalah tahapan saat tubuh mempersiapkan dan membantu kehamilan berkembang dengan normal.

Setiap perempuan umumnya memiliki perubahan fisiologis dan psikologis yang berbeda-beda. Semua disesuaikan dengan kondisi kesehatan masing-masing. Memahami perubahan dan efek pada berbagai sistem tubuh dapat membantu mengurangi kecemasan selama kehamilan. Untuk mengatasi perubahan ketidaknyaman yang dialami baik secara fisik dan psikis adalah mengkondisikan ibu hamil merasa bahagia dan menerima proses kehamilan dan perubahan yang menyertainya.

 

 

ANALISIS SPASIAL UNTUK PEMETAAN KAWASAN TANAH LONGSOR

Fanny Tri Raditya, STP, MP                                                                                                         
Dosen Program Studi Agroindustri Politeknik Banjarnegara                                                                 
29 Maret 2021 

Mitigasi bencana longsor lahan adalah suatu usaha memperkecil jatuhnya korban manusia dan atau kerugian harta benda akibat peristiwa atau rangkaian peristiwa yang disebabkan oleh alam, manusia dan oleh keduanya yang mengakibatkan jatuhnya korban, penderitaan manusia, kerugian harta benda, kerusakan sarana dan prasarana dan fasilitas umum serta menimbulkan gangguan terhadap tata kehidupan dan penghidupan masyarakat. Bencana longsor dengan skala wilayah yang luas dapat menimbulkan dampak yang sangat serius, sehingga mempengaruhi tingkatan risiko bencana yang terjadi, karena risiko bencana merupakan potensi kerugian yang ditimbulkan akibat bencana pada suatu wilayah dan kurun waktu tertentu yang dapat berupa kematian, luka, sakit, jiwa terancam, hilangnya rasa aman, mengungsi, kerusakan atau kehilangan harta, dan gangguan kegiatan masyarakat, serta kerusakan sarana prasarana infrastruktur, dan prasarana lainnya sehingga dapat melumpuhkan roda perekonomian lokal, regional bahkan nasional.

Kerawanan bencana dapat dinilai tingkatannya berdasarkan besar kecilnya tingkat ancaman dan kerentanan pada suatu wilayah. Analisis kerawanan bencana dapat dilakukan dengan berbagai metode salah satunya adalah metode pemetaan berbasis Sistem Informasi Geografis (SIG). Dewasa ini berbagai pihak telah mencoba untuk menyusun suatu peta risiko bencana, dikerenakan belum adanya standarisasi dalam metode penyusunan peta risiko menyebabkan setiap lembaga atau institusi memiliki metode yang berbeda dalam penyusunan peta risiko. Secara mendasar pemahaman tentang konsep bencana menjadi dasar yang kuat dalam melakukan pemetaan risiko bencana yang dapat diaplikasikan kedalam Sistem Informasi Geografis (SIG) yang dapat ditampilkan secara spasial.

Analisis kerentanan suatu kawasan secara umum dapat dilakukan dengan konsep overlay antar layer (antar variabel) yang saling mendukung, sehingga melalui fasilitas yang ada pada software SIG dapat diperoleh informasi potensi kawasan tersebut, yaitu kawasan rawan longsor.

1.  Pembuatan Peta Curah Hujan

Peta curah hujan didapatkan dari titik stasiun curah hujan yang berada di sekitar lokasi wiayah rawan longsor. Dari titik titik stasiun curah hujan tersebut dibangun sebuah polygon yang berisi informasi polygon sebaran curah hujan pada masing – masing stasiun curah hujan.

Tahapan dari pembuatan peta digital yaitu sebagai berikut :

·         Digitasi Peta analog

·         Input data atribut (titik stasiun hujan beserta data)

·         Pembuatan polygon sebaran curah hujan

2.      Pembuatan Peta Kemiringan

Peta Kemiringan diperoleh dari digitasi peta kontur yang bersumber dari Peta Rupa Bumi Indonesia Badan Koordinasi Survei dan Pemetaan Nasional (BAKOSURTANAL) skala 1 : 25000. Peta Kontur digunakan sebagai dasar untuk analisa Digital Elevation Model (DEM) sehingga didapatkan Peta Kemiringan Lereng.

3.      Pembuatan Peta Tanah

Peta tanah diperoleh dari digitasi peta jenis tanah yang bersumber dari Peta Geologi Indonesia.

4.      Pembuatan Peta Tata Guna Lahan

Peta Tata Guna Lahan diperoleh dari digitasi peta analog yang bersumber dari Peta Rupa Bumi Indonesia Badan Koordinasi Survei dan Pemetaan Nasional (BAKOSURTANAL) skala 1 : 25000.

Setelah data diperoleh, maka tahap selanjutnya adalah melakukan analisis dan perhitungan yang diperlukan untuk analisis kelongsoran. Langkah awal yaitu pemberian skoring/pengharkatan pada peta sesuai dengan parameter dan kriterianya. Selanjutnya dilakukan proses tumpang susun (overlay), yaitu dengan mengoverlay beberapa peta parameter (peta kemiringan lereng, peta jenis tanah, peta curah hujan, peta tataguna lahan).

Penentuan daerah rawan longsor menggunakan SIG dengan metode  Indeks Storie yaitu perkalian setiap parameter-parameter. Hasil analisis itu nantinya akan menghasilkan nilai kisaran  indeks storie. Selanjutnya nilai kisaran ini dikonversi pada beberapa tingkatan rawan longsor.

L = A x B/10 x C/10 x D/10

dimana :

L = tingkat kerentanan

A = tataguna lahan

B = kemiringan lereng

C = jenis tanah

peta kawasan rawan longsorD = curah hujan

 

\
Contoh Hasil Analisis Spasial Pemetaan Kawasan Rawan Longsor

 

 

YUK, CARI TAHU MITOS DAN FAKTA SEPUTAR KESEHATAN REPRODUKSI !

Bagi sebagian besar remaja, topik mengenai kesehatan reproduksi adalah sebuah misteri. Alasannya, mungkin mereka enggan untuk bertanya pada orangtua atau dokter. Atau, mereka justru disesatkan oleh informasi yang bersifat mitos yang berasal dari orang yang tidak tepat. 

Wajar saja jika remaja ingin tahu banyak hal, khususnya mengenai kesehatan reproduksi. Namun, masalah yang terjadi tentang kesehatan reproduksi remaja adalah banyaknya mitos yang dipercaya, sehingga terbawa sampai ia dewasa. Mitos-mitos yang diterima oleh remaja umumnya langsung diserap tanpa memastikan lagi pada orang yang lebih tahu. Inilah mitos terkait kesehatan reproduksi remaja yang sebaiknya tidak diyakini:

Tidak boleh keramas atau gunting kuku/rambutb pada saat menstruasi
Faktanya Kita tetap harus menjaga kebersihan diri termasuk saat menstruasi
• Pembalut tidak boleh dibakar nanti bisa menyebabkan kanker dan nyeri
Faktanya Tidak ada hubungan antara pembalut yang dibakar dengan kanker dan nyeri
• Hubungan seksual sekali saja tidak dapat menyebabkan kehamilan
Faktanya Ketika remaja laki-laki sudah mengalami mimpi basah, maka dapat menyebabkan kehamilan pada perempuan yang sudah menstruasi walaupun hanya satu kali berhubungan seksual. Meski seorang perempuan baru pertama kali melakukan hubungan seksual, namun ia tetap berisiko mengalami kehamilan. Kehamilan tidak berhubungan dengan berapa sering seseorang berhubungan intim, namun ini mengenai bertemunya sel sperma dengan sel telur yang dapat menghasilkan pembuahan
• Tidak boleh makan ikan, daging dan telur saat menstruasi karena darah menjadi amis
Faktanya Pada saat menstruasi kita membutuhkan asupan makanan bergizi dan protein tinggi seperti dari ikan, daging atau telur
• Minum obat penghilang rasa nyeri saat haid dapat menyebabkan kemandulan
Faktanya Obat penghilang rasa nyeri tidak ada hubunganya dengan tingkat kesuburan seseorang
• Loncat-loncat setelah berhubungan seksual tidak menyebabkan kehamilan
Faktanya Kemungkinan hamil tetap besar karena sperma yang terlanjur masuk ke dalam sulit untuk dikeluarkan lagi
• Minum air dingin selama menstruasi bikin darah jadi beku
Faktanya Konsumsi air dingin tidak ada hubunganya dengan proses mentruasi
Cara menjaga kesehatan alat reproduksi
Berikut beberapa cara yang bisa dilakukan remaja untuk menjaga kesehatan alat reproduksinya.
– Memakai handuk yang lembut, kering, bersih, dan tidak berbau atau lembab
– Memakai celana dalam dengan bahan yang mudah menyerap keringat
– Mengganti pakaian dalam minimal 2 kali dalam sehari
– Bagi perempuan, sesudah buang air kecil, membersihkan alat kelamin sebaiknya dilakukan dari arah depan menuju belakang agar kuman yang terdapat pada anus tidak masuk ke dalam vagina
– Bagi laki-laki, dianjurkan untuk dikhitan atau disunat guna mencegah terjadinya penularan penyakit menular seksual serta menurunkan risiko kanker penis.
Untuk perempuan yang mulai memasuki masa menstruasi juga harus memperhatikan kebersihan alat reproduksi saat menstruasi.
Cara menjaga kebersihan reproduksi saat menstruasi dapat dilakukan dengan:
– Pilihlah pembalut yang bebas dari berbagai jenis bahan berbahaya dan nyaman saat dipakai
– Ganti pembalut secara berkala, antara 3 hingga 5 kali dalam sehari
– Bersihkan vagina terlebih dulu sebelum mengganti pembalut. Membersihkan vagina sebainya dilakukan dengan air mengalir dan sebaiknya hindari penggunaan sabun
– Cuci tangan sampai bersih usai membuang pembalut serta sebelum mengganti pembalut
– Rutin mengganti celana dalam untuk menghindari resiko tidak nyaman di sekitar vagina. Pastikan memakai celana dalam yang terbuat dari bahan yang menyerap keringat
Bagi mereka yang sering mengalami nyeri saat menstruasi, mengompres perut bagian bawah dengan air hangat, melakukan olahraga yang teratur, dan istirahat yang cukup mampu membantu mengurangi rasa nyeri.
Akan tetapi, bila nyeri terjadi hingga berhari-hari dan menggangu aktivitas, sebaiknya hubungi dokter untuk mengonsultasikannya.

 

MUAL MUNTAH PADA IBU HAMIL

 

Mual muntah pada ibu hamil terjadi pada awal kehamilan, hal ini biasa disebut dengan morning sickness, kenapa dikatakan morning sickness karena mual muntah sering terjadi pada pagi hari walapun ada yang terjadi hampir sepanjang hari.

Lantas bagaimana ibu yang mengalami mual muntah apakah berbahaya bagi janin? tentu tidak berbahaya bagi janin, hal ini wajar terajadi karena  adanya peningkatan hormon pada tubuh ibu hamil yang biasa disebut dengan hormon hCG (Human Chorionic Gonadotropin). Namun apabila mual muntah terus terjadi setiap hari, ibu akan menjadi lemas tubuhnya dan bisa terjadi dehidrasi. Sehingga ada beberapa kasus ibu hamil yang mengalami mual muntah berlebih bisa dibawa ke Rumah Sakit untuk mendapatkan penanganan supaya dehidrasi teratasi dengan diberikan cairan infus.

Bagaimana dengan ibu yang tidak mengalami mual muntah?apakah itu wajar?tidak masalah ibu hamil yang tidak mengalami mual muntah karena adaptasi hormon setiap ibu itu berbeda, dan juga kadar hormon hCG (Human Chorionic Gonadotropin) dalam tubuh ibu hamil rendah, sehingga dapat mentoleransi perubahan hormon pada ibu hamil.

Bagaimana cara menangani atau mengurangi mual muntah pada ibu hamil?

Apabila ibu mengalami mual muntah, selain melakukan pemeriksaan ke tenaga kesehatan ibu juga bisa melakukan cara mengurangi dengan banyak minum air putih, makan sedikit tapi sering. Sealain itu berdasarkan hasil penelitian sekarang banyak tanaman ataupun buah yang dapat dikonsumsi oleh ibu apabila mnegalami mual muntah, misal dengan cara:

1.        Meminum rebusan jahe

Fungsi farmakologis jahe salah satunya adalah antiemetik (anti muntah). Jahe juga merupakan stimulan aromatik yang kuat, disamping dapat mengendalikan muntah dengan meningkatkan gerakan peristaltik usus. Penyajian rebusan jahe merah dapat memberi rasa nyaman diperut sehingga dapat mengurangi mual muntah. Hasil temuan peneliti, dosis jahe merah dan daun mint peneliti berikan yaitu 2,5 gram.

2.        Pemberian inhalasi lemon

Inhalasi aromaterapi lemon terbukti menurunkan mual muntah pada ibu hamil. Lemon mengandung limonen, citral, linalyl, linalool, terpineol yang dapat menstabilkan sistem syaraf pusat, menimbulkan perasaan senang, meningkatkan nafsu makan, melancarkan peredaran darah, dan sebagai penenang (sedative). Saat minyak esensial dihidung, molekul yang mudah menguap akan membawa unsur aromatik yang terdapat dalam kandungan minyak tersebut ke puncak hidung. Rambut getar terdapat di dalamnya, yang berfungsi sebagai reseptor, akan menghantarkan pesan elektrokimia ke susunan saraf pusat. Pesan ini akan mengaktifkan pusat emosi dan daya ingat seseorang yang selanjutnya akan mengantarkan pesan balik keseluruh tubuh melalui sistem sirkulasi. Pesan yang diantar ke seluruh tubuh akan dikonversikan menjadi satu aksi dengan pelepasan substansi neuro kimia berupa perasaan senang, rileks, tenang, atau terangsang

3.        Konsumsi Buah Salak

Salak merupakan buah segar yang memiliki kandungan  B6 dan memiliki banyak kandungan vitamin lainnya. Menurut penelitian 100 mg buah salak memiliki kandungan B6 0,2 mg yang dapat mengurangi rasa mual. Ekstrak daging buah salak memiliki aktivitas antioksidan yang tinggi. Antioksidan merupakan salah satu zat gizi yang dapat menurunkan mual.. Selain antioksidan buah salak juga mengandung flavonoid yang berguna untuk meningkatkan produksi empedu dan menetralkan cairan pencernaan yang dapat mengurangi rasa mual dan muntah. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan bahwa Kandungan B6 dan antioksidan pada buah salak menjadikan ibu hamil mengalami penurunan mual lebih banyak dibandingkan dengan ibu hamil yang tidak konsumsi salak.

 

PUPUK ORGANIK SEBAGAI ALTERNATIF MENGATASI KELANGKAAN PUPUK ANORGANIK

 

Arum Asriyanti Suhastyo, SP.M.Si
Dosen Program Studi Agroindustri
Politeknik Banjarnegara

Masalah klasik yang terus terjadi setiap tahun menjelang musim tanaman adalah kelangkaan pupuk. Selain terjadi kelangkaan, harga juga melambung tinggi baik untuk pupuk subsidi maupun non subsidi. Berbagai kebijakan serta langkah-langkah sudah dibuat dan diterapkan oleh pemerintah, namun tetap saja kelangkaan pupuk berulang setiap tahunnya. Sejak adanya revolusi hijau di Indonesia, penggunaan pupuk anorganik terus meningkat dan sekarang bisa dikatakan tingkat ketergantungan petani terhadap pupuk anorganik cukup tinggi. Padahal penggunaan pupuk anorganik yang tidak bijak telah terbukti mengakibatkan kerusakan tanah dan  lingkungan, yang berakibat pada terus menurunnya produktivitas panen. Oleh karena itu perlu adanya upaya untuk menumbuhkan kesadaran kepada para petani untuk mengatasi ketergantungan pemakaian pupuk anorganik yaitu dengan pemakaian pupuk organik. Berdasarkan Permentan Nomor 70/Permentan/SR.140/10/2011 pengertian pupuk organik adalah pupuk yang berasal dari tumbuhan mati, kotoran hewan dan/atau bagian hewan dan/atau limbah organik lainnya yang telah melalui proses rekayasa, berbentuk padat atau cair, dapat diperkaya dengan bahan mineral dan/atau mikroba, yang bermanfaat untuk meningkatkan kandungan hara dan bahan organik tanah serta memperbaiki sifat fisik, kimia dan biologi tanah. Pupuk organik merupakan pupuk lengkap yang mengandung unsur hara baik makro maupun mikro namun dalam jumlah sedikit dibandingkan pupuk anorganik. Namun penggunaan terus menerus pupuk organic dalam rentang waktu tertentu akan menjadikan kualitas lahan menjadi lebih baik dibandingan penggunaan pupuk anorganik. Pupuk organik mampu meningkatkan kemampuan tanah mengikat air, meningkatkan daya tahan tanah terhadap erosi, meningkatkan pH dan kapasitas tukar kation, serta meningkatkan aktivitas biologi tanah. Selain itu, pupuk organik aman bagi lingkungan dan kesehatan manusia karena tidak meninggalkan residu pada hasil tanaman. Sehingga pupuk organik selain dapat menyuburkan tanah, juga dapat meningkatkan produktivitas lahan. Banyak sumber daya alam berupa bahan-bahan organik maupun limbah organik yang ada disekitar petani yang dapat dibuat sebagai pupuk organik. Seperti dari jerami padi, brangkasan kacang, brangkasan jagung,  kotoran ternak, dedaunan, dan lain-lain.  Penelitian penggunaan bahan organik sebagai pupuk juga telah banyak dilakukan seperti  limbah batang pisang yang dibuat pupuk organic cair mengandung fosfor 135 mg per 100 gr batang (Santi, 2008). Kulit pisang yang dibuat pupuk organik cair mengandung nitrogen total  0,211%, P2O5 0,07% dan K2O 0,88% (Sriharti dan Takiyah, 2008). Rendaman sabut kelapa mengandung unsur hara kalium. Menurut Sari (2015) air hasil rendaman sabut kelapa dapat digunakan sebagai pengganti pupuk KCl anorganik untuk tanaman. Akan tetapi walaupun sumber bahanorganik sebenarnya cukup tersedia banyak, namun belum termanfaatkan karenakurangnya pengetahuan petani. Petani dapat membuat sendiri pupuk organik baik secara perorangan maupun kelompok. Petani dapat merekayasa bahan organik yang tersedia menjadi kompos, bokhasi, pupuk cair atau memanfaatkan bahan organik in situ sisa ( sisa panen, sisa tanaman). Jika para petani bisa memanfaatkan bahan organik sebagai pupuk organik maka tidak ketergantungan terhadap pupuk anorganik dapat berkurang. Walau diawal akan terasa berat akan tetapi penggunaan pupuk organik merupakan investasi pemenuhan pangan jangka panjang yang ramah lingkungan

Daftar Pustaka 

Santi, S.S.,2008.Kajian Pemanfaatan Limbah Nilam untuk Pupuk Cair Organik dengan Proses Fermentasi. Jurnal
teknik Kimia
Vol 4. No.2 April 2010.

Sari, S.Y. 2015. Pengaruh Volume Pupuk Organik Cair Berbahan dasar Serabut Kelapa (Cocos
nucifera
) terhadap Pertumbuhan dan Hasil Panen Sawi Hijau (Brassica
juncea
) [skripsi]. Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.

Sriharti dan Takiyah, S. 2008. Pemanfaatan Limbah Pisang untuk Pembuatan Kompos Menggunakan Komposer Rotary Drum. Yogyakarta: Balai Besar Pengembangan
Teknologi Tepat Guna LIPI.