Mahasiswa Agroteknologi Kenalkan Pengendali Hama Hasil Riset Dosen

Sejumlah mahasiswa Program Studi Agroteknologi Politeknik Banjarnegara mengenalkan pengendali hama pada Kelompok Tani Hasrat Manunggal, Desa Gumelem Kulon, Kecamatan Susukan.

Koordinator kegiatan, Agisti Fajri Liana mengatakan bersama tim yang terdiri dari mahasiswa Agroteknologi semester dua, sekitar satu bulan melakukan observasi terkait organisme pengganggu tanaman yang dipusatkan di Desa Gumelem Kulon. Permasalahan utama di wilayah tersebut yakni adanya serangan hama wereng coklat tanaman padi yang sudah endemis. “Setelah tim menelaah permasalahan yang ditemukan, kami berupaya ikut membantu mencari solusi dan berdiskusi bersama melalui forum pertemuan rutin kelompok tani beberapa waktu lalu,” katanya.

Dalam forum tersebut, dipaparkan materi terkait upaya pengendalian hama wereng coklat yang menyerang tanaman padi dengan menggunakan jamur entomopatogen (patogen serangga). Sebelum kegiatan dilakukan pre-test bagi anggota kelompok tani untuk mengetahui tingkat pengetahuannya dan di akhir kegiatan juga dilakukan post-test untuk mengetahui tingkat pengetahuan anggota kelompok tani setelah memperoleh materi kegiatan.

Jamur entomopatogen yang dikenalkan yaitu Beauveria Bassiana sebagai pestisida hayati (biopestisida). Jamur B. Bassiana tersebut merupakan isolat asal Desa Mertasari, Kecamatan Purwanegara dari hasil riset dosen Program Studi Agroteknologi Politeknik Banjarnegara, Eko Apriliyanto, SP, M.Sc.

Dijelaskan Eko, biopestisida ini dianggap unggul karena selektif terhadap serangga sasaran sehingga tidak membahayakan serangga lain bukan sasaran, tidak meninggalkan residu beracun pada hasil pertanian, dalam tanah maupun pada aliran air alami, tidak menyebabkan fitotoksin (keracunan) pada tanaman dan mudah diproduksi dengan teknik sederhana.

“Petani dapat memperoleh sendiri jenis jamur  B. Bassiana, serangga hama yang mati dengan tubuh mengeras seperti mumi dengan jamur berwarna putih yang menutupinya itu adalah serangga yang terinfeksi jamur entomopatogen,” ujar Eko.

Menurutnya pihaknya sangat terbuka apabila ada masyarakat atau kelompok tani yang tidak bisa menemukan sendiri jamur entomopatogen, dapat menjalin kerjasama dengan Program Studi Agroteknologi Politeknik Banjarnegara untuk pengembangan jamur entomopatogen sebagai pengendali hama wereng. “Silahkan, apabila ada yang kesulitan dan membutuhkan informasi serta berdiskusi bisa datang langsung ke kampus,” katanya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *